Sengsara Membawa Nikmat (part 6)

Untuk sekedar terus mengenang karya Sutan Sati yang menggema diera 1990-an......
********************************************************************************

MATAHARI telah turun menjelang tirai peraduan di balik bumi, meninggalkan cahaya yang merah kuning laksana emas baru disepuh dipinggir langit di pihak barat. Burung-burung beterbangan pulang ke sarangnya. Dengan tergesa-gesa sambil berkotek memanggil anak, masuklah ayam ke dalam kandang, karena hari telah samar muka. Cengkerik mulai berbunyi bersahut-sahutan, menyatakan bahwa hari sudah senjakala. Ketika itu sunyi senyap, seorang pun tak ada kelihatan orang di jalan. Di jembatan pada sebuah kampung, kelihatan tiga orang duduk berjuntai. Mereka duduk seakan-akan ada suatu rahasia yang dimufakatkannya, yang tidak boleh sedikit juga didengar orang lain. Sambil melihat ke sana kemari, kalau-kalau ,ada orang lalu lintas, mereka itu mulai bercakap-cakap.

"Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam di Bukittinggi," kata seorang di antara mereka itu yang tidak lain dari Kacak memulai percakapannya. "Saat itulah yang sebaikbaiknya bagi kita akan membalaskan dendamku selama ini kepada Midun. Tak dapat tiada tentu Midun pergi pula melihat keramaian itu. Orang kampung telah tahu semua, bahwa saya bermusuh dengan dia. Jadi kalau dia saya binasakan di sini, malu awak kepada orang. Tentu orang kampung syak wasangka kepada saya saja, kalau ada apa-apa kejadian atas diri Midun. Lagi pula ia tak pernah keluar, hingga sukar akan rnengenalnya. Oleh sebab itu telah bulat pikiran saya, bahwa hanya di
Bukittinggilah dapat membinasakannya. Bagaimanakah pikiran Lenggang? Sukakah Lenggang menolong saya dalam hal ini? Budi dan cerih Lenggang itu, insya Allah takkan saya lupakan. Bila
yang dimaksud sampai, saya berjanji akan memberi sesuatu yang menyenangkan hati Lenggang."

"Cita-cita Engku Muda itu mudah-mudahan sampai," jawab Lenggang, sambil melihat keliling, takut kalau-kalau ada orang mendengar. "Kami berdua berjanji menolong Engku Muda sedapat-dapatnya. Jika tak sampai yang dimaksud, tidaklah kami kembali pulang. Tidak lalu dendang di darat kami layerkan, tak dapat dengan yang lahir, dengan batin kami perdayakan. Sebab itu apa yang kami kerjakan di Bukittinggi, sekali-kali jangan Engku Muda campuri, supaya Engku jangan
terbawa-bawa. Biarkanlah kami berdua, dan dengar saja oleh Engku Muda bagaimana kejadiannya. Ada dua jalan yang harus kami kerjakan. Tetapi... maklumlah, Engku Muda, tentu dengan biaya. Lain daripada itu ingatlah, Engku-Muda, rahasia ini hanya kita bertiga saja hendaknya yang tahu. Pandai-pandai Engku Muda menyimpan, sebab hal ini tidak dapat dipermudah, karena perkara jiwa."

"Seharusnya saya yang akan berkata begitu," ujar Kacak sambil mengeluarkan uang kertas Rp 25,- dari koceknya, lalu diberikannya kepada Lenggang. "Bukankah Tuan-tuan membela saya, masakan saya bukakan rahasia ini. Biar apa pun akan terjadi atas diri Lenggang kedua, jangan sekali-kali nama saya disebut-sebut. Saya ucapkan, moga-moga yang dimaksud sampai, karena bukan main sakit hatiku kepada Midun, anak si peladang jahanam itu. Jika dia sudah luput dari dunia ini, barulah senang hati saya. Sekarang baik kita bercerai-cerai dulu, karena kalau terlalu lama bercakap-cakap, jangan-jangan dilihat orang." Setelah ketiganya berteguh-teguhan janji bahwa rahasia itu akan dibawa mati, maka mereka pun pulang ke rumah masingmasing. Lenggang dengan temannya sangat bersuka hati mendapat uang itu. Gelak mereka terbahak-bahak, lenggangnya makin jadi, tak ubah sebagai namanya pula.

Bahaya apa yang akan menimpa mereka kelak, sedikit pun tidak dipedulikan Lenggang. Memang Lenggang sudah biasa menerima upah semacam itu. Pekerjaan itu sudah biasa dilakukannya. Sudah banyak ia menganiaya orang, satu pun tak ada orang yang tahu. Pandai benar ia menyimpan rahasia dan melakukan penganiayaan itu. Jika ada yang menaruh dendam kepada seseorang, dengan uang seringgit atau lima rupiah saja, telah dapat Lenggang disuruh akan membinasakan orang itu. Pekerjaan itu dipandangnya mudah saja, karena sudah biasa. Akan membinasakan Midun itu, tidak usah ia berpikir panjang, karena hal itu gampang saja pada pikirannya. Hanya yang dipikirkan Lenggang, tentu ia mendapat upah amat banyak dari
Kacak, jika yang dimaksudnya sampai. Kacak seorang kaya, sedangkan bagi permintaan yang pertama diberinya Rp 25,- padahal belum apa-apa lagi. Akan mengambil jiwa Midun, seorang yang boleh dikatakan masih kanak-kanak, tak usah dihiraukannya.

Dua pekan lagi akan diadakan pacuan kuda di Bukittinggi. Tetapi sekali ini pacuan kuda itu akan diramaikan dengan pasar malam lebih dahulu. Kabar pasar malam di Bukittinggi itu sudah
tersiar ke mana-mana di tanah Minangkabau. Hal itu sudah menjadi buah tutur orang. Di mana-mana orang mempercakapkajavascript:void(0)nnya, karena pasar malam baru sekali itu akan diadakan di
Bukittinggi. Demikian pula Midun, yang pada masa itu sedang duduk-duduk di surau menanti waktu asar bersama Maun, pasar malam itulah yang selalu diperbincangkan. "Ah, alangkah ramainya keramaian di kota sekali ini, Maun," kata Midun memulai percakapan itu. "Kabarnya 'alat'* (Maksudnya pacuan kuda) sekali ini akan sangat ramai sekali, sebab disertai dengan pasar malam. Di dalam pasar malam itu, orang mempertunjukkan berbagai-bagai kerajinan, ternak, hasil tanah, dan lain-lain sebagainya. Segala pertunjukan itu, mana yang bagus diberi hadiah. Permainan-permainan tentu tidak pula kurang. Tak inginkah Maun pergi ke Bukittinggi? Saya berhajat benar hendak melihat keramaian sekali ini. Kepada ayah saya sudah minta izin. Tetapi hati beliau agak berat melepas saya, berhubung dengan Kacak yang selalu mengintai hendak menerkam mangsanya. Sungguhpun demikian, beliau izinkan juga, asal saya ingat-ingat menjaga diri."

"Memang saya ingin pergi ke Bukittinggi," ujar Maun, "Sejak kecil belum pernah saya melihat pasar malam. Bagi saya tak ada alangan apa-apa. Perkara Kacak yang engkau katakan itu, saya juga merasa khawatir. Ia selalu mengintai-intai, Midun! Kepada saya sendiri, kalau bertemu agak lain pandangnya, tetapi tidak saya pedulikan. Kemarin, waktu kita pergi sembahyang Jumat, ada kita berjumpa dengan seorang yang belum pernah bertemu, apalagi dikenal. Orang itu saya lihat memandang kepada kita dengan tajam. Sudah kenalkah engKau kepada orang itu? Bukankah engkau ada ditegurnya?" "Tidak, sekali-kali tidak, saya heran karena saya ditegurnya
dengan sopan benar, padahal ia belum saya kenali. Saya rasa tentu ia tidak orang jahat, sebab ada juga sembahyang. Tetapi waktu kita bertemu dengan dia kemarin, darah saya berdebar.
Entah apa sebabnya tidaklah saya tahu. Malam tadi tak senang sedikit juga hati saya. Ada saya tanyakan kepada Bapak Pendekar akan orang itu. Bapak Pendekar menerangkan, bahwa orang itu bukanlah orang kampung sini. Tetapi beliau kenal namanya dipanggilkan orang Lenggang. Dahulu memang dia seorang jahat, pemaling dan pencuri. Kedatangannya kemari tidak beliau ketahui. Beliau katakan pula, bahwa Lenggang itu acap kali kelihatan pergi ke rumah famili Tuanku Laras. Karena itu, menurut tilikan beliau, Lenggang tentu sudah. Baik sekarang, apalagi telah sembahyang. Kalau tidak, tentu ia tidak berani menampakkan diri ke rumah Tuanku Laras. Sungguhpun demikian, beliau suruh saya hati-hati juga menjaga diri, jangan lengah sedikit juga. Musuh dalam selimut, kata beliau."

"Perasaan saya pun begitu, Midun. Lain perasaan saya waktu melihat orang itu kemarin. Untung beliau telah maklum. Saya sudah berniat juga hendak mengatakannya kepadamu. Sudah jauh kita diamat-amatinya juga ngeri saya melihat rupanya, bengis dan menakutkan sungguh. Ingat-ingat, Midun! Kita harus hati-hati, supaya jangan binasa."

"Yang sejengkal itu tak mau jadi sedepa, kawan! Tak usah kita hawatirkan benar hal itu. Syak wasangka dan cemburu yang berlebih-lebihan merusakkan pikiran dan membinasakan diri. Jika nasib kita akan dapat malapetaka, apa boleh buat. Bukankah tiap-tiap sesuatu dengan takdir Tuhan." "Jadi rupanya Midun menanti takdir saja, dan bila takdir itu datang, sudahlah."
"Sebenarnya, kawan! Tetapi engkau jangan pula salah pengertian. Bukan maksud saya berserah diri saja sebab takdir, sekalikili tidak. Kita dijadikan Tuhan dan diberi pikiran secukupnya. Dengan pikiran itulah kita menimbang mana yang baik untuk keselamatan diri kita. Bukankah segala dua dijadikan Allah? Pilihlah dengan pikiran itu mana yang akan dikerjakan. Kita wajib mengusahakan diri agar terhindar dari bencana dunia ini. Bilamana ikhtiar sudah dijalankan, dan kita dapat malapetaka juga, itulah yang dnamakan nasib. Dan kalau kita sekarang sekonyong-konyong kena tombak misalnya, padahal tidak disengaja, itulah yang dikatakan orang takdir. Mengertikah engkau, Maun? Jadi tentu saja kita harus horhati-hati. Jika dapat dihindarkan, baik kita hindarkan, supaya jangan dapat bahaya. Tetapi bila tersesak padang ke rimba, terhentak ruas ke buku, apa boleh buat, wajib kita membela diri."

"Sekarang mengerti saya maksudmu itu. Nah, bilakah kita berangkat? Tak perlukah kita membawa apa-apa untuk dijual di kota akan belanja selama di sana?" "Tiga hari pasar malam akan dimulai, kita berangkat dari sini."
"Uang simpananku ada Rp 25,-. Kamu adakah menyimpan uang?"
"Ada, saya rasa hanya sebanyak uang simpananmu pula agaknya."
"Mari kita perniagakan uang itu! Saya dengar kabar, lada dan telur amat mahal sekarang di Bukittinggi. Untungnya itulah untuk belanja. Lain daripada itu kita tolong pula menjualkan lada ibu."

Pada tepi jalan di pasar kampung itu kelihatan lada, ayam, dan lain-lain sebagainya. Dua orang muda memuat barangbarang itu ke dalam pedati. Setelah selesai, Midun dan Maun pun bersalam dengan ayah-bunda masing-masing, yang ketika itu ada pula di sana menolong memuat barang itu ke dalam pedati. Mereka kedua minta izin, lalu bersiap akan berangkat. Ketika Midun bersalam minta maaf kepada ibunya, lama benar tangannya maka dilepaskan ibunya. Amat berat hati ibu itu melepas anaknya ke Bukittinggi. Sungguhpun Bukittinggi tidak
berapa jauh dari kampungnya, tetapi tak ubah hal ibu Midun sebagai seorang yang hendak melepas anaknya berjalan jauh. Amat lain perasaannya, takut kalau-kalau anaknya dapat bahaya. Rasa-rasa tampak kepada ibu itu bahaya yang akan menimpa anaknya, karena Midun dimusuhi orang. Tetapi ia terpaksa harus melepas Midun, anak yang sangat dikasihinya itu.

Maka berangkatlah Midun dan Maun menumpang pedati yang membawa barang-barangnya itu. Dari kampungnya ke Bukittinggi adalah semalam perjalanan dengan pedati. Ia berangkat pada petang hari Jumat. Pagi-pagi hari Sabtu, sebelum matahari terbit, sudah sampai di Bukittinggi. Di dalam perjalanan keduanya adalah selamat saja. ` Belum tinggi matahari terbit, barang-barang yang dibawanya diborong oleh orang Cina dengan harga Rp 160,-. Setelah itu keduanya pergi makan ke sebuah lepau nasi dan menghitung laba masing-masing. Barang yang berpokok Rp 50,- dijual Rp 100,- dan beruntung Rp 50,-. Penjualan lain kepunyaan ibunya Rp 60,- ' disimpan mereka uangnya. Setelah dipotong biaya, lalu dibaginya dua keuntungan itu, yaitu Rp 20,-, seorang. Sesudah makan, Midun berkata, "Sungguh bukan sedikit untung kita, Maun! Patutlah Datuk Palindih lekas benar kayanya. Belum lama ia jadi saudagar, sudah banyak ia membeli sawah. Uang yang diperniagakannya pun tidak sedikit, karena berpuluh pedati ia membawa barang-barang yang telah dibelinya. Maukah Maun berniaga pula nanti?"

"Baik, saya pun amat suka berniaga," jawab Maun. "Jika pandai menjalankan perniagaan, memang lekas benar naiknya. Tapi jatuhnya mudah pula. Lihatlah Baginda Sutan itu! Dari sekaya-kayanya, jatuh jadi semiskin-miskinnya. Sekarang pikirannya tidak sempurna lagi."

"Benar katamu itu. Karena Baginda Sutan sangat tamak akan uang dan sangat kikir pula, ia dihukum Tuhan. Boleh jadi ia berniaga terlampau banyak mengambil untung, lalu dimurkai
Allah. Kekikirannya jangan dikata lagi. Bajunya baju hitam yang sudah berkilat lehernya, karena tidak bercuci. Baunya pun tidak terperikan busuknya. Uang seduit dibalik-baliknya dulu
baru dibelanjakan."

Maka mereka pun menanyakan kepada orang lepau itu, agar mereka kedua diizinkan bermalam di sana selama ada keramaian. Bagi orang lepau itu, karena dilihatnya Midun dan Maun orang baik-baik, tiadalah menjadi halangan mereka kedua menumpang di lepau itu. Setelah itu Midun dan Maun berjalan akan melihat-lihat keramaian "pasar malam". Pada kiri kanan jalan dekat lepau itu sampai ke pintu gerbang dihiasi dengan pelbagai sulur-suluran dan hunga-bungaan. Bergelung-gelung amat indah-indah rupanya. Pada tiap-tiap rumah sepanjang jalan, berkibaran bendera si tiga warna. Dari jauh sudah kelihatan pintu gerbang pasar malam itu. Tinggi di atas
puncaknya terpancang bendera Belanda yang amat besar, berombak-ombak ditiup angin. Tonggak pintu gerbang itu dililit dengan kain yang berwarna-warna. Pelbagai bunga-bungaan bersusun amat beraturan, menyedapkan pemandangan. Midun dan Maun sampai di pintu gerbang itu. Dengan heran inereka melihat keindahannya. Agak ke sebelah dalam sedikit ada sebuah rumah yang amat kukuh, bangun rumah itu tak ubah dengan balairung sari buatan orang Minangkabau zaman dahulu. Sungguh tertarik hati melihat bangun rumah itu. Atapnya
dari ijuk, berdinding papan berukir. Di tengah-tengah balai itu ada sebuah pintu masuk yang amat besar. Jika orang hendak melihat pasar malam, harus melalui pintu balai itu. Di atas
pintu agak sebelah atas, ada kepala kerbau yang bertanduk. Kepala kerbau itu ialah menjadi suatu tanda kebesaran orang Minangkabau.

Konon kabarnya, menurut cerita orang: pada zaman dahulu kala orang Jawa datang ke Minangkabau akan menyerang negeri itu. Melihat kedatangan orang Jawa yang sangat banyak itu, orang Minangkabau khawatir, takut akan kalah perang. Oleh sebab itu, dicarinya akal akan menghindarkan bahaya itu. Maka dikirimnya seorang utusan oleh raja Minangkabau kepada panglima perang orang Jawa itu membawa kabar, mengatakan: bahwa jika berperang tentu akan mengorbankan jiwa manusia saja. Oleh karena itu, dimintanya berperang itu dihabisi dengan jalan mengadu kerbau saja. Manakala kerbau orang Minangkabau kalah, negeri itu akan diserahkan kepada orang Jawa. Tetapi kalau menang, segala kapal-kapal dengan muatannya
harus diserahkan kepada orang Minangkabau. Permintaan itu dikabulkan oleh orang Jawa dengan segala suka hati. Maka dicarinya seekor kerbau yang amat besar. Tetapi orang Minangkabau mencari seekor anak kerbau yang sudah tiga hari tidak diberinya menyusu. Pada moncong anak kerbau itu diberinya berminang yang amat tajam. Setelah datang hari yang ditentukan hadirlah rakyat kedua kerajaan itu. Ketika orang Jawa melihat anak kerbau orang Minangkabau, mereka tertawa dengan riangnya. Pasti kepada mereka itu, bahwa ia akan menang. Tetapi setelah kedua kerbau itu dilepaskan ke tengah gelanggang, anak kerbau itu pun berlari-lari kepada kerbau besar orang Jawa itu, hendak menyusu... sehingga perut kerbau itu tembus oleh minang yang lekat di moncongnya. Kerbau orang Jawa itu mati, maka menanglah kerbau orang Minangkabau itu. Demikianlah ceritanya. Benar tidaknya cerita itu, wallahu alam.

Balai itu dihiasi dengan amat bagus dan indahnya. Di atas balai itu kelihatan beberapa orang engku-engku berdiri. Ketika Midun tercengang-cengang memperhatikan pintu gerbang itu, tampak olehnya huruf yang dibuat dengan air mas. Huruf itu terletak pada tengah-tengah gaba-gaba. Sedang Midun melihat-lihat, datang seorang dekat padanya. Midun menyangka tentu anak itu murid sekolah, lalu bertanya, "Buyung, apakah bunyi bacaan yang tertulis pada gaba-gaba itu?"
Anak itu pun berkata, katanya, "Pasar Malam." Midun meminta terima kasih kepada anak itu, kemudian berkata kepada Maun. "Jika orang hendak masuk ke dalam rupanya membayar. Mari kita beli pula yang seperti dibawa orang itu, kita masuk ke dalam!"

Sesudah membeli karcis, lalu keduanya masuk. Belum lagi sampai ke tengah, mereka amat heran melihat kebagusan pasar malam itu. Pondok-pondok berdiri dengan amat teratur. Los-los
pasar dihiasi dengan bermacam-macam bunga. Midun pergi melihat-lihat keadaan di pasar itu. Mula-mula dilihatnya pada sebuah pondok seorang perempuan menenun kain. Midun sangat heran melihat bagaimana cekatannya perempuan itu bertenun. Setelah lama diperhatikan, ia pun meneruskan perjalanannya pula melihat yang lain-lain, misalnya, cara menanam tumbuh-tumbuhan yang subur, pemeliharaan ternak yang baik dan lain-lain sebagainya. Segala yang dilihat Midun di dalam pasar malam itu, diperhatikannya sungguhsungguh. Setelah petang hari, baru mereka pulang ke lepau nasi. Ketika ia melalui sebuah los dekat pintu keluar, kedengaran olehnya orang berseru-seru, katanya, "Lihatlah peruntungan, Saudarasaudara!
Baik atau tidaknya nasib kelak, dapat dinyatakan dengan mengangkat batu ini!" Midun dan Maun tertarik benar hatinya hendak melihat, lalu mereka pergi ke tempat itu. Midun melihat sebuah batu yang besar bertepikan suasa. Batu itu telah tua benar rupanya. Agaknya sudah berabad-abad umurnya. Tidak jauh daripada itu ada pula terletak sebuah pedupaan (perasapan). Bertimbun kemenyan yang ditaruhkan orang di sana. Maka bertanyalah Midun kepada orang yang berseru itu, katanya, "Batu apa ini, Mamak? Bagaimanakah, maka kita dapat menentukan nasib kelak dengan batu ini?"
"Batu ini ialah batu keramat, pusaka dari Raja Pagaruyung yang telah berabad-abad lamanya," jawab orang itu. "Jika orang muda dapat mengangkat batu ini sampai ke atas kepala, tandanya orang muda akan berbahagia kelak. Tetapi bila tidak dapat, boleh saya pastikan, bahwa nasib orang muda tidak baik akhir kelaknya. Dan barang siapa yang tidak percaya akan perkataan saya, tentu ia dikutuki batu keramat ini."

Midun dan Maun amat takjub mendengar perkataan orang itu. Karena ia seorang alim pula, bersalahan sungguh pendapat orang ini dengan ilmu pengetahuannya. Pikirnya, "Ini tentu suatu tipu untuk pengisi kantung saja. Mengapakah hal yang semacam ini kalau dibiarkan saja oleh pemerintah? Bukankah hal ini bersalahan dengan ilmu pengetahuan dan agama? Orang ini barangkali tidak beragama, karena batu disangkanya dapat menentukan buruk baik untung orang."

Berkacau-balau pikiran Midun tentang batu yang dikatakan keramat itu. Tetapi ia tidak berani mengeluarkan perasaannya, karena takut kepada orang banyak yang mengelilinginya. Tiba-tiba
datang seorang, lalu membakar kemenyan sebesar ibu jari pada pedupaan. Ketika ia membakar kemenyan, lalu memohonkan rahmat kepada batu itu, moga-moga baik nasibnya kelak. Kemudian ia memasukkan uang sebenggol ke dalam tabung yang sudah tersedia. Sambil memperbaiki sikap dan membaca bismillah, maka diangkatnyalah batu itu perlahan-lahan, sebab takut akan ketulahan. Telah mengalir peluh di badan orang itu, jangankan terangkat bergerak pun tidak batu itu. Dengan bersedih hati dan muka yang suram, berjalanlah ia, tidak
menoleh-noleh ke belakang.

Midun berbisik kepada Maun, "Bersedih hati benar rupanya orang itu, karena batu ini tidak terangkat olehnya. Kepercayaannya penuh, bahwa batu keramat. Tentu saja tidak terangkat olehnya batu sebesar ini, karena ia sudah tua. Sungguh kasihan dan boleh jadi ia menyesali hidupnya dan sesalan itu boleh menimbulkan pikiran, hendak membinasakan diri, karena sangkanya, daripada hidup sengsara kelak, lebih baik mati sekarang. Berbahaya benar, tidak patut hal ini dibiarkan."

Maun menarik napas, lalu berkata perlahan-lahan, "Sungguh, amat banyak orang sesat, karena kebodohan dan kepercayaan yang bukan-bukan. Janganlah kita bicarakan juga hal ini. Jika terdengar oleh yang punya dan oleh orang-orang yang mempercayainya keramat batu ini, boleh jadi kita binasa."

"Baiklah, maukah Maun mengangkat batu ini? Saya ingin hendak mengangkat berapa beratnya, sebab sudah tiga orang tak ada yang kuat. Sungguhpun tidak percaya, kita pura-pura saja seperti orang itu."

Maka Midun membakar kemenyan, kemudian memasukkan uang lima sen ke tabung. Setelah itu diangkatnya batu yang dikatakan keramat itu. Oleh Midun, seorang muda yang sehat
dan kuat, dengan mudah saja batu itu diangkatnya. Segala orang yang melihat amat heran, lalu berkata, "Anak muda yang berbahagia." Benci benar Midun mendengar perkataan itu, hampir-hampir tak dapat ia menahan hati. Tiba-tiba telanjur juga, lalu berkata, "Tuhan yang dapat menentukan berbahagia atau tidaknya untung nasib seseorang, tetapi batu ini ...."

Midun dan Maun segera berjalan pulang ke lepau nasi, karena ketika hendak berkata lagi, dilihatnya muka yang punya batu berubah sekonyong-konyong. Sepanjang jalan mereka sepatah pun tidak bercakap, karena memikirkan batu yang bertepikan suasa itu. Sudah makan, baru mereka mempercakapkan penglihatannya sehari itu. Tetapi yang menarik hati mereka benar, ialah memperkatakan batu yang keramat itu saja.

Pada malam hari Midun dan Maun pergi pula ke pasar malam. Sesampai di pintu masuk, takjub sungguh Midun melihat pintu gerbang pasar malam itu. Gaba-gaba diterangi dengan berpuluhpuluh lampu, melukiskan ukuran yang amat indah-indah. Balai dihiasi dengan lampu yang berwarna-warna. Huruf-huruf pada gaba-gaba dan di gonjong balai, seakan-akan terbuat daripada lampu laiknya. Dengan segera Midun membeli karcis, lalu masuk ke dalam. Midun dan Maun berjalan tidak seperti siang tadi, melainkan diperhatikannya isi tiap-tiap pondok di pasar itu. Banyak penglihatan Midun yang berfaedah untuk penghidupannya kelak. Misalnya pekerjaan tangan, cara memelihara ternak, keadaan bibit tanaman yang bagus, contoh-contoh barang perniagaan, dan lain-lain.

Demikianlah pekerjaan mereka itu dua hari lamanya. Pada hari yang kelima, pagi-pagi, Midun dan Maun pergi ke pasar. Mereka herbelanja membeli ini dan itu, karena hendak terus pulang setelah melihat pacuan kuda lusanya. Tengah hari kembalilah mereka ke Iopau. Segala barang-barang yang dibeli, dipertaruhkannya kepada orang lepau itu. Setelah itu Midun duduk hendak makan, tetapi Maun masih di luar membeli rokok. Baru saja Midun duduk, Maun berseru dari luar katanya, "Midun! Midun! Lihatlah, apa ini?" Midun melompat lari ke luar, hendak melihat yang diseurkan kawannya itu. Di jalan kelihatan beberapa engku-engku dan tuan-tuan diarak dengan musik militer. Tiba-tiba Midun terkejut, karena di dalam orang banyak itu kelihatan olehnya Kacak. Dengan segera ditariknya tangan Maun, lalu dibawanya masuk ke dalam lepau.

Dengan perlahan-lahan Midun berkata, "Maun! Adakah engkau melihat Kacak di antara orang banyak itu?"
"Tidak," jawab Maun dengan cemasnya. "Adakah engkau melihat dia?"
"Ada, rupanya ia ada pula datang kemari. Ketika saya melihatnya tadi, ia memandang ke sana kemari, seakan-akan ada yang dicarinya di antara orang banyak itu. Entah siapa yang dicarinya dengan matanya itu tidaklah saya ketahui. Saya amat heran karena ketika saya menampaknya tadi, darah saya berdebar. Yang biasa tidaklah demikian benar hal saya bilamana melihat Kacak. Boleh jadi kita di sini diintip orang, Maun! Siapa tahu dengan tidak disangka-sangka kita dapat bahaya kelak. Sebab itu haruslah kita ingat-ingat selama di sini."

"Tidak kelihatankah engkau kepadanya tadi? Tetapi saya rasa takkan berani Kacak berbuat apa-apa kepada kita di dalam peralatan besar ini. Nyata kepada saya ketakutannya bertentangan
dengan engkau, waktu perkelahian di tepi sungai dahulu. Sedangkan di kampung demikian keadaannya, apalagi di sini. Siapa yang akan dipanggakkannya di sini? Karena itu tidak boleh jadi ia akan menyerang kita. Sungguhpun demikian, kita harus berhati-hati juga."

"Saya tidak kelihatan olehnya. Tetapi jika tak ada yang dicarinya, masakan seliar itu benar matanya. Saya pun maklum, bahwa dia tida k akan berani menyerang kita di sini. Tetapi karena dia orang kaya, tentu bermacam-macam jalan dapatdilakukannya akan membinasa. kan kita. Biarlah, asal kita ingat-ingat saja."

Sesudah makan mereka pun berjalan-jalan ke pasar, melihat perarakan anak-anak sekolah dan lain-lain: Malam hari Midun tidak keluar, melainkan tinggal di lepau nasi saja. Lain benar perasaannya sejak melihat Kacak hari itu. Besoknya ketika pacuan kuda dimulai, mereka itu tidak pergi melihat, melainkan tinggal di lepau saja. Hanya pada hari yang kedua saja mereka hendak pergi sebentar. Sudah itu maksudnya hendak terus pulang ke kampung.


[+/-]ЯeadMore.

Short Cut (#)


Untuk membuat Symbol khusus menggunakan keyboard, Anda harus menekan tombol Alt+angka tertentu. Pastikan NumLock pada Keyboard anda dalam keadaan ON. Untuk menekan angka tertentu, tekanlah menggunakan NumPad (Kumpulan Tombol Angka pada bagian Kanan Keyboard.

Berikut ini daftar Karakter Khusus yang dapat ditampilkan :

Alt + 0153..... ™ [trademark symbol]
Alt + 0169.... © [copyright symbol]
Alt + 0174..... ® [registered trademark symbol]
Alt + 0176 ...° [degree symbol]
Alt + 0177 ...± [plus-or-minus sign]
Alt + 0182 ...¶ [paragraph mark]
Alt + 0190 ...¾ [ three-fourth]
Alt + 0215 .... × [multiplication sign]
Alt + 0162... ¢ [the cent sign]
Alt + 0161..... ¡ [upside down exclamation point]
Alt + 0191..... ¿ [upside down question mark]
Alt + 1.......... ☺ [smiley face]
Alt + 2 ......... ☻ [black smiley face]
Alt + 15........ ☼ [sun]
Alt + 12........ ♀ [female sign]
Alt + 11....... ♂ [male sign]
Alt + 6.....♠ [spade sign]
Alt + 5.......... ♣ [Club symbol]
Alt + 3.......... ♥[Heart]
Alt + 4.......... ♦ [Diamond]
Alt + 13........ ♪ [Music note]
Alt + 14........ ♫ [Music note]
Alt + 8721.... ∑ [N-ary summation (auto sum)]
Alt + 251...... √ [square root check mark]
Alt + 8236..... ∞ [infinity]
Alt + 24........ ↑ [up arrow]
Alt + 25........ ↓ [down arrow]
Alt + 26........ → [right pointing arrow]
Alt + 27........ ← [left arrow]
Alt + 18........ ↕ [up/down arrow]
Alt + 29........ ↔ [left right arrow ]

Berikut beberapa Karakter Khusus Tambahan :

§--Alt+21
▬--Alt+22
∟--Alt+28
▲--Alt+30
--Alt+32
!--Alt+33
"--Alt+34
#--Alt+35
$--Alt+36
%--Alt+37
&--Alt+38
'--Alt+39
(--Alt+40
)--Alt+41
*--Alt+42
+--Alt+43
,--Alt+44
---Alt+45
.--Alt+46
/--Alt+47

5. Selain karakter di atas, Anda dapat ber-experiment dengan angka-angka acak yang anda coba-coba sendiri.

6. Tidak hanya pada Facebook, Karakter khusus di atas juga dapat ditampilkan dengan cara yang sama pada saat kita melakukan Chatting.



[+/-]ЯeadMore.

Sengsara Membawa Nikmat (part 5)

Untuk sekedar terus mengenang karya Sutan Sati yang menggema diera 1990-an......
********************************************************************************



SEKALI peristiwa pada suatu petang Midun pergi ke sungai hendak mandi. Tidak jauh ke sebelah hulu, tepian mandi perempuan. Pada masa itu amat banyak orang mandi, baik di tepian perempuan, baik pun di tepian laki-laki. Mereka mandi sambil bersenda gurau. Ada yang berketimbung sambil tertawa gelak-gelak. Bermacam-macam tingkahnya, menurut kesukaan masing-masing. Sekonyong-konyong datanglah air besar dari hulu. Sangat deras air mengalir, karena hujan lebar di mudik. Batu yang besar-besar, pohon-pohon kayu dan lain-lain banyak dihanyutkan air. Mereka yang mandi pada kedua tepian itu berlompatan ke darat. Sangat ketakutan mereka itu rupanya. Masing-masing menolong diri sendiri-sendiri. Ada yang jauh juga dibawa air, tetapi dapat melepaskan diri. Tetapi yang mandi jauh ke tengah, apalagi tak pandai berenang, tak dapat tiada binasalah. Sibuk orang di tepian, ada yang memekik sebab ngeri, ada pula yang berteriak menyuruh kawan segera ke darat. Bunyi air yang deras itu sangat menakutkan. Tiba-tiba kedengaran teriak orang mengatakan, "Tolong, tolong! Katijah hanyut! Katijah hanyut!"

Tidak lama kelihatan rambut seorang perempuan di dalam air. Timbul-tenggelam dibawa air. Midun ketika itu ada pula di sana, tetapi ia sudah mandi dan hendak berangkat pulang. Banyak orang lari ke hilir akan menolong yang hanyut itu. Segala orang di pasar berlarian, dahulu-mendahului akan melihat atau menolong yang hanyut. Mereka tanya-bertanya siapa yang hanyut itu. Katijah, yaitu nama perempuan yang hanyut itu, ialah istri Kacak yang baru dua bulan dikawininya. Banyak sungguh orang berdiri di tepi sungai. Orang itu semuanya hanya kadar melihat yang hanyut saja. Seorang pun tak ada yang berani menolong. Mereka takut dirinya akan binasa, sebab air terlalu deras. Di dalam orang banyak itu Midun serta pula melihat. Kasihan benar ia melihat jiwa perempuan yang terancam itu. Karena dilihatnya tidak seorang juga yang hendak menolong. Midun bersiap, hendak terjun. Pakaiannya ditanggalkannya, hingga tinggal celana pendek saja lagi. Dengan tidak berpikir lagi, Midun lari ke hilir dan melompat ke dalam sungai. Amat sukar ia akan mencapai perempuan itu, karena air makin deras. Kayu-kayu besar yang hanyut sangat mengalangi Midun akan mencapai Katijah. Setelah ia dekat kepada perempuan yang hendak ditolongnya itu, terpaksa pula Midun menyelam, karena beberapa alangan. Dengan susah payah dapat juga ditangkapnya pinggang Katijah, lalu berhanyut - hanyut ke hilir sambil menepi sungai. Dengan cara demikian dapatlah Midun mencapai daratan. Sampai di darat dipegangnya kaki perempuan itu lalu dipertunggangnya* (Kaki ke atas kepala ke bawah), agar keluar air yang terminum oleh perempuan itu. Katijah sudah pingsan, tidak tahu akan diri lagi. Kain di badan tak ada, telanjang bulat. Maka datanglah orang berlari-lari membawa kain untuk Katijah. Bersama itu pula Kacak dengan dua orang kawannya. Di belakang itu orang banyak yang ingin melihat kejadian itu, bagaimana kesudahannya. Midun berusaha sedapat-dapatnya supaya Katijah yang pingsan itu siuman akan dirinya. Setelah orang banyak datang, maka Katijah diserahkan oleh Midun kepada perempuan, supaya dibela dan diberi pakaian. Kacak masam saja mukanya melihat Midun. Jangankan minta terima kasih, melainkan panas hatinya kepada Midun. Benar, sepatutnya ia minta syukur istrinya telah ditolong. Tetapi apakah sebabnya maka si Midun, orang yang sangat dibencinya itu pula yang menolongnya. Lebih panas lagi hatinya ketika diketahuinya istrinya itu dalam bertelanjang pula. Maka tidak tertahan panas hatinya lagi, lalu iapun berkata, "Midun, adakah dihalalkan dalam agama bahwa orang laki-laki itu boleh menyentuh kulit perempuan orang lain?"

Orang banyak sangat heran dan amat sakit hatinya mendengar perkataan Kacak itu. Jangankan ia minta terima kasih atas kebaktian Midun, malahan perkataannya sangat melukai hati orang. Midun sendiri takjub dan tercengang, karena tidak disangkanya perkataan macam itu akan keluar dari mulut Kacak. Maka Midun menjawab, katanya, "Engku Muda, saya menolong karena Allah. Jika Engku Muda hendak bertanyakan terlarang atau tidaknya dalam agama, memang hal itu tersuruh, tak ada larangannya. Jika tidak ada saya, barangkali istri Engku berkubur di dalam sungai ini."

"Kurang ajar, berani engkau berkata begitu kepadaku?" ujar Kacak dengan marah. "Engkau kira saya ini patung saja, tidak tahu menolong istri dalam bahaya? Lancang benar mulutnya menghinakan daku, seorang kemenakan Tuanku Lareh, di muka khalayak sebanyak ini. Hendak engkau rasai pulakah tanganku sekali lagi?"

"Saya maklum Engku Muda kemenakan Tuanku Lareh," ujar Midun dengan sabar. "Saya pun tidak menghinakan Engku Muda, karena perkataan saya itu sebenar-benarnya. Tadi setelah saya lihat tidak seorang jua yang akan menolong, saya terus saja terjun ke air akan membela istri Engku. Saya harap janganlah Engku terlalu benar mengatakan orang 'kurang ajar' sebelum
dipikirkan lebih dahulu."

"Jika benar engkau saya katakan kurang ajar, apa pikiranmu, anjing!" ujar Kacak dengan sangat marah. "Akan saya sembahkah engkau hendaknya, binatang!" Kacak melompat hendak menyerang Midun, tetapi ditahan orang, lalu disabarkan. Makin disabarkan, makin jadi, diperkitar-kitarkannya orang yang memegang dia. Orang banyak berkerumun melihat pertengkaran Kacak dengan Midun. Midun tidak dapat lagi menahan hati. Apalagi mendengar perkataan "binatang" dan "anjing" itu di muka orang banyak. Ada juga ia hendak menyabarkan hatinya, tetapi tiada dapat. Maka ia pun berkata, "Lepaskanlah, Saudara-saudara, tak usah disabarkan lagi! Sanak saudara sekalianlah yang akan menjadi saksiku kelak, bahwa saya dalam hal ini tidak bersalah. Terlalu benar, sementang kemenakan Tuanku Lareh. Datangilah Kacak,
lepaskan dendammu! Menanti atau mendatang?" Orang banyak rupanya menanti perkataan Midun saja lagi.

Memang orang sangat benci kepada Kacak yang sombong itu. Mereka telah berjanji dengan dirinya masing-masing, apa pun akan terjadi lamun ia tetap akan menjadi saksi Midun kelak.
Kacak segera dilepaskan orang dan melapangkan tempat untuk berkelahi. Dalam perkelahian itu, sekali pun tidak dapat Kacak mengenai Midun. Tiap-tiap Kacak menyerang selalu jatuh tersungkur. Kacak hanya berani membabi buta saja, mukanya berlumur darah. Midun sekali pun tidak mengenai Kacak. Kacak tersungkur karena deras datang yang selalu dielakkan Midun.
Sedapat-dapatnya Midun menahan hatinya akan melekatkan tangan kepada Kacak. Kacak payah, akan lari malu, orang satu pun tiada yang menolong. Akan minta ampun lebih malu lagi,
namanya anak laki-laki. Ia hampir tidak bergaya lagi. Maka katanya, "Tolonglah saya, kawan! jasamu tidak akan saya lupakan. Engkau biarkan sajakah saya seorang?" Teman Kacak yang dua orang tadi maju ke tengah, lalu berkata, "Ini dia lawanmu Midun, tahanlah!" Maun melompat lalu berkata, "Satu lawan satu. Engkau berdua. Sama menolong teman, di sini juga begitu." "Engkau jangan campur, Maun!" ujar Midun. "Biarkan saya sendiri, biarpun sepuluh orang. Kalau saya kena atau mati baru engkau tuntutkan balas. Adat laki-laki berpantang minta tolong. Cobakanlah beranimu!"

Maun mengundurkan diri mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia tiada berani membantah, sebab Maun sudah tahu sejak dari kecil akan tabiat Midun. Midun sekarang melepas kekuatannya. Dalam sesaat saja kedua orang itu jatuh. Mereka kedua tak dapat bangun lagi karena tepat benar kenanya. Melihat hal itu, Kacak melompat menyerang dengan pisau. Kacak terjatuh pula, tidak dapat bangun lagi. Ketika ia mencoba hendak bangkit pula, dubalang Lingkik datang dan menangkap pisau di tangan Kacak, lalu berkata, "Sabar, Engku Muda, malu kita kepada orang."

Dubalang Lingkik datang itu bersama dengan Penghulu Kepala. Midun, Kacak, dan dua orang temannya dibawa ke kantor Tuanku Lareh. Kacak dipapah orang sebab sudah payah dan kesakitan, dan mukanya sudah bersimbah darah. Orang banyak yang melihat perkelahian itu dibawa semuanya sebagai saksi. Di muka Tuanku Lareh, dubalang Lingkik menerangkan dengan sebenarnya. Dikatakannya, bahwa pisau itu ditangkapnya di tangan Kacak. Dan dikatakannya pula Kacak melawan Midun tiga orang dengan temannya. Kemudian Midun dan Kacak ditanyai pula oleh Tuanku Lareh. Saksi-saksi dipanggil semuanya, lalu ditanyai. Dengan berani, mereka itu menerangkan dari awal sampai ke akhir peristiwa itu. Meskipun Kacak kemenakan Tuanku Lareh, tetapi semua berpihak kepada Midun. Setelah sudah pemeriksaan itu, Midun disuruh pulang. begitu pula segala saksi-saksi semuanya pulang. Tuanku Lareh mengatakan, bahwa bila nanti dipanggil mesti dating sekaliannya.

Tuanku Lareh berkata kepada Penghulu Kepala, katanya, "Perkara ini saya pulangkan kepada Penghulu Kepala dan kerapatan penghulu. Kurang pantas dan tidak laik rupanya, kalau saya yang memeriksa. Sungguhpun demikian, Penghulu Kepala tentu maklum."
"Baiklah Tuanku; " jawab Penghulu Kepala. "Insya Allah akan saya periksa dengan sepatutnya, hingga menyenangkan hati Tuanku."

Tiga hari kemudian daripada itu, Midun dipanggil Penghulu hepala. Kacak dan saksi-saksi pun dipanggil semua. Pak Midun, Haji Abbas, dan Pendekar Sutan pergi pula akan mendengarkan
putusan itu. Orang banyak pula datang akan mendengarkan. Perkara Midun itu diperiksa oleh kerapatan di kampung itu, yang dikepalai oleh Penghulu Kepala sebagai ketuanya. Mulamula
Midun ditanya, setelah itu Kacak. Kemudian segala saksisaksi yang hadir dalam perkelahian itu. Setelah diperbincangkan panjang lebar, maka perkara itu diputuskan oleh Penghulu Kepala. Midun harus ronda kampung setiap malam, lamanya enam hari. Midun dipersalahkan membalas dendam kepada Kacak, karena kedua orang itu telah lama bercedera.


Setelah perkara itu diputuskan, Haji Abbas pun berdatangkata, katanya, "Penghulu Kepala dan kerapatan yang hadir! Karena perkara ini sudah diputuskan, saya sebagai guru dan bapak Midun, mohon bicara sepatah kata. Saya amat bersenang hati atas putusan itu, karena Midun membela jiwa seorang perempuan, sekarang ia dihukum harus ronda malam enam hari. Hukuman yang diputuskan itu memang seadil-adilnya dan telah pada tempatnya pula. Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Kerapatan dan kepada Penghulu Kepala." Kerapatan itu diam, seorang pun tak ada yang menjawab perkataan Haji Abbas yang amat dalam artinya itu. Mereka berpandang-pandangan seorang akan seorang, tetapi tak ada yang berani menjawab. Demikianlah halnya sampai kerapatan itu disudahi dan orang pulang semua.

Sampai di rumah Midun, Haji Abbas berkata, "Pak Midun, orang rupanya hendak mencelakakan anak kita. Kita yang tua harus ingat-ingat dalam hal ini. Hal ini tidak boleh kita permudah-mudah saja lagi. Orang lain sudah campur dalam perkara Midun dengan Kacak. Asal kita ikhtiarkan, kalau akan binasa juga apa boleh buat. Maklumlah Pak Midun?" '
"Saya kurang mengerti akan ujud perkataan Haji itu," jawab Pak Midun dengan heran.
"Sudah setua ini Pak Midun, belum tahu juga akan ujud putusan itu," ujar Haji Abbas. "Kilat beliung sudah ke kaki, kilat cermin sudah ke muka. Anak kita masa ini dalam bahaya. Kita harus beringat-ingat benar."
"Bahaya apa pula yang akan datang kepada Midun," jawab Pak Midun. "Bukankah perkaranya sudah diputuskan?"
Dengan perlahan-lahan Haji Abbas berkata, "Rapat itu tidak dapat menghukum Midun dengan hukuman yang lebih berat, karena saksi semua berpihak dan mempertahankan Midun. Sebab itu Midun disuruh ronda malam saja. Di dalam Midun ronda itu, tentu orang dapat mencelakakan Midun, supaya ia mendapat hukuman yang berat, mengerti Pak Midun?"
"Amboi!" kata Pak Midun sambil menarik napas. Ia insaf dan tahu sekarang, bahwa Midun dalam bahaya.

"Pendekar Sutan," kata Haji Abbas pula. "Dalam enam malam ini hendaklah engkau dengan murid-muridmu dan temanmu semua menemani Midun ronda malam di kampung ini. Hati-hati engkau jangan orang dapat membinasakan anak kita. Saya harap dalam enam hari ini jangan ada terjadi apa-apa di kampung."

"Kamu, Midun," kata Haji Abbas menghadapkan perkataannya kepada Midun. "Kalau ada temanmu yang sehati dengan engkau, bawalah ia akan kawan pergi ronda. Saya sendiri dengan ayahmu akan menolong engkau sedapat-dapatnya." Setelah mereka itu berteguh-teguh janji, maka pulanglah ke rumah masing-masing. Midun pun pergi mencari kawan, akan teman pergi ronda. Pendekar Sutan dengan teman dan muridnya 20 orang dan Midun dengan kawan-kawannya ada pula 12 orang. Mereka itu mufakat, bagaimana harus menjalankan ronda itu, dan menetapkan tanda-tanda kalau ada sesuatu bahaya bertemu. Setelah sudah, mereka itu semuanya mulailah menjalankan ronda. Lima malam telah lalu adalah selamat saja, tidak kurang suatu apa-apa. Ketiga bapak Midun dengan temannya, ingat benar menjaga keselamatan di kampung itu dalam lima malam yang sudah. Midun sendiri sebagai ketua dari kawan-kawannya, membagi-bagi ronda itu berempat-berempat. Sekarang tinggal lagi malam yang penghabisan.
Mereka sekarang harus inga-tingat benar, karena ia merasa bahwa malam itu seakan-akan
ada bahaya yang akan datang. Midun mengatur dengan baik, bagaimana harus melakukan ronda malam itu. Demikian pula Pendekar Sutan dengan anak muridnya. Midun dan Maun malam itu tidak bercerai. Keduanya lengkap dengan senjata, mana yang perlu. Kira-kira pukul tiga malam, Midun ronda melalui rumah istri Kacak. Tiba-tiba Midun berhenti karena mendengar sesuatu bunyi di rumah Kacak. Midun terkenang akan nasihat bapaknya, bagaimana melihat orang dalam malam yang gelap. Maka ia pun merebahkan diri dan menangkup, lalu melihat arah ke rumah Kacak. Di halaman rumah kelihatan oleh Midun sesuatu sosok tubuh; dan ada pula seorang sedang membuka pintu rumah. Tak jauh di halaman tampak pula seorang lagi.

Dengan perlahan-lahan Midun berkata kepada Maun, "Maling. Pergilah panggil Bapak Pendekar dan kawan-kawan, supaya dapat kita mengepung. Masih ada waktu, dia baru mulai membuka pintu. Ingatlah, segala pekerjaan ini harus dilakukan dengan perlahanlahan
benar, supaya kita jangan diketahuinya." Dengan tidak menyahut sepatah jua, Maun pergilah. Tidak lama antaranya datanglah Pendekar Sutan dengan Maun. Pekerjaan itu dilakukan dengan diam-diam dan hati-hati benar. Midun bertanya dengan berbisik, "Sudahkah siap, Bapak?"
"Sudah," ujar Pendekar Sutan. "Pada keliling rumah ini, agak jauh sedikit, orang sudah bersiap. Sudah saya perintahkan mengepung rumah, takkan dapat maling melarikan diri. Mereka itu
hanya menanti perintah kita saja. Sudah saya katakana kepadanya, siapa yang lari, pukul saja."

Dengan sabar, Midun dan kawan-kawannya menantikan maling itu ke luar, supaya dapat tanda buktinya apabila ditangkap. Sudah dimufakati, bahwa yang akan menyerang ialah Midun dan Pendekar Sutan. Maun siap akan membela, manakala di antara mereka kedua ada yang kena dalam perkelahian itu. Ada sejam kemudian, keluarlah maling itu, sambil memikul barang curiannya. Ketika hendak turun janjang, kakinya tergelincir, lalu ia jatuh, pukulan Midun tiba di kepalanya. Dengan segera maling itu bangun sambil mencabut pisau hendak membalas. Tetapi Midun segera mendahului, memukul, dengan gada sekali lagi. Pukulan itu tepat kena pada kening maling itu, lalu terjatuh tidak bergerak lagi. Ketika itu Maun telah ada pada sisinya, lalu berkata, "Biarkanlah orang ini saya ikat dengan tali. Yang seorang lagi dapat saya pukul, tetapi
karena kurang tepat, masih kuat ia melarikan diri. Pergilah tolong Mamak Pendekar, beliau sudah bergumul dengan maling itu. Nyata kedengaran pada saya, bahwa orang itu belum tertangkap."

Dengan tidak berkata sepatah jua, Midun melompat pergi mendapatkan Pendekar Sutan. Didapatinya maling itu sudah pingsan terhantar di tanah. Pendekar Sutan kena pisau pada
pangkal lengannya. Untung tidak berat lukanya. "Dalam luka Bapak?" ujar Midun dengan cemas. "Tidak," jawab Pendekar Sutan. "Waktu saya menangkapnya, kaki saya terperosok ke dalam lubang tempat orang memeram pisang. Ketika itulah saya kena ditikamnya. Untung dapat juga saya menangkis, kalau tidak tentu tepat kena saya, dan hanya bangkai yang akan engkau dapati di sini. Engkau bagaimana?"
"Selamat," ujar Midun," orang itu sudah diikat Maun. Marilah kita ikat pula orang ini."
"Yang satu lagi ke mana?" ujar Pendekar Sutan. Bukankah engkau mengatakan mereka tiga orang banyaknya?"
"Biarlah, Bapak," kata Midun pula. "Asal yang dua ini dapat, 'sudahlah. Tentu ia sudah melarikan diri. Ia ada juga kena dipukul oleh Maun. Besok tak dapat tiada yang lari itu akan
tertangkap juga, asal yang dua ini dipaksa menyuruh menunjukkan temannya yang seorang itu. Sungguhpun demikian, boleh jadi ia sudah ditangkap kawan-kawan." Haji Abbas, karena suraunya berdekatan dengan rumah istri Kacak, mendengar perkelahian itu, memang Haji Abbas tidak tidur semalam-malaman itu, mendengar kalau-kalau ada yang terjadi atau orang memanggil dia. Ia segera turun dengan melalui jendela surau. Tiba-tiba terasa olehnya seakan-akan ada orang yang hendak bertumbuk dengan dia. Dengan tidak berpikir lagi. Haji Abbas memainkan kakinya, orang itu berteriak, "Saya Kacak, mengapa dipukul, aduh...!"

Mendengar suara itu, Haji Abbas menghilang di dalam gelap. Akan kedua maling itu sudah diikat, lalu diiringkan mereka beramai-ramai ke rumah Penghulu Kepala. Barang-barang curian itu dibawa Maun semuanya. Maklumlah anak mudamuda, tentu mereka tak kurang melekatkan tangan kepada maling itu, hingga sampai ke rumah Penghulu Kepala. Ketika itu hari sudah lewat pukul empat pagi. Karena Penghulu Kepala di rumah istrinya yang seorang lagi, lalu dibawa kedua maling itu ke rumah Tuanku Lareh. Biasanya pada tiap-tiap kampung yang di bawah pemerintahan Tuanku Lareh itu, diadakan orang tongtong. Tongtong itu digantungkan pada tiap-tiap rumah jaga, dan dijagai oleh dua orang sekurang-kurangnya. Manakala ada bahaya, baru tongtong itu boleh dibunyikan, misalnya kebakaran, kemalingan, dan lain-lain yang semacam itu. Pada tiap-tiap bahaya, berlain-lainan cara orang membunyikannya. Yang lazim, jika kebakaran terus-menerus saja bunyi tongtong itu. Kalau kemalingan, lain lagi macam bunyinya. Pada malam kemalingan di rumah Kacak itu, amat sibuk bunyi tongtong. Bersahut-sahutan kampung yang sebuah dengan kampung lain, akan memberitahukan bahwa ada bahaya. Mendengar bunyi tongtong itu, orang maklum sudah, bahaya apa yang terjadi.

Masa itu mana yang berani, berlompatan turun ke halaman dengan senjatanya. Mereka itu terus lari ke rumah jaga menanyakan di mana kemalingan. Tetapi si penakut memperbaiki selimutnya, ada pula yang bangun memeriksa pintu, dan ada pula yang duduk saja ketakutan di dalam rumahnya. Demikian pula halnya Tuanku Lareh. Ketika ia mendengar bunyi tongtong itu, ia terkejut lalu bangun. Tuanku Lareh amat heran mendengar bunyi tongtong, karena sudah hampir 5 tahun sampai waktu itu, belum pernah ada bahaya yang terjadi di kampung itu, pada pikirannya, "Tak dapat tiada ada orang maling menjarah dari negeri lain ke kampung ini. Atau boleh jadi... Tetapi mengapa Penghulu Kepala pulang ke rumah istrinya di kampung lain?"

Maka ia pun segera memakai baju malam, diambilnya terkul. Ia terjun ke halaman, diiringkan oleh dua orang dubalang. Tiada jauh Tuanku Lareh berjalan, sudah kelihatan olehnya suluh berpuluh-puluh buah. Di muka tampak dua orang yang sudah terikat, dan di belakang amat banyak orang mengiringkannya. Mereka itu semua menuju ke rumah Tuanku Lareh. Dengan segera seorang dubalang disuruh Tuanku Lareh membawa maling itu ke kantornya. Kedua maling itu tidak dapat ditanyai malam itu, karena berlumur darah dan letih. Baru saja sampai di beranda kantor mereka pingsan tidak sadarkan diri lagi. Tiap-tiap orang sepanjang jalan mengirimkan sepak terjang kepada maling itu. Orang banyak itu disuruh pulang oleh Tuanku Lareh semua.

Pendekar Sutan, Maun, dan Midun dipanggil ke dalam oleh Tuanku Lareh. "Di mana kamu tangkap maling ini?" ujar Tuanku Lareh. Midun lalu menerangkan bahwa kemalingan itu di rumah Engku Muda Kacak. Segala tanda bukti diperlihatkannya semua. Kemudian diceritakannya, bagaimana caranya menangkap maling itu sejak dari bermula sampai tertangkap. Pendekar Sutan luka tidak dikatakan Midun. Mendengar cerita Midun, Tuanku Lareh mengangguk-anggukkan kepala saja. Tetapi pada mukanya nyata ada sesuatu yang terpikir dalam hatinya. Setelah habis Midun bercerita, Tuanku Lareh bertanya, "Kacak ada di rumah istrinya?"

"Tidak, Tuanku!" jawab Midun. "Menurut keterangan istrinya, ia pulang ke rumah istrinya yang lain. Tetapi ke rumah istri beliau yang mana, tidaklah hamba tahu." Baru saja habis Midun berkata, Penghulu Kepala dating dengan terengah-engah. Rupanya Penghulu Kepala berlari dari
rumah istrinya di kampung lain, karena mendengar bunyi tongtong. Setelah Iepas lelahnya, maka Tuanku Lareh dibawa Penghulu Kepala bercakap ke dalam sebuah bilik kantor itu. Kira-kira setengah jam, baru keduanya keluar dengan muka masam. Maka Tuanku Lareh berkata, "Midun! Karena kedua orang maling ini masih pingsan, belum boleh ditanyai, kamu boleh pulang saja dahulu. Nanti bilamana saya panggil, hendaklah segera engkau datang." '
"Baiklah, Tuanku, kami mohon minta izin," ujar Midun dengan hormatnya.

Sampai di rumah, Midun menceritakan kepada ayah bundanya kejadian pada malam itu. Ibu bapak Midun berbesar hati dan meminta syukur kepada Tuhan seru sekalian alam, karena anaknya Ada selamat saja, terhindar daripada bahaya. Tetapi dalam hati Midun timbul suatu perasaan yang ganjil, ketika ia mengenangkan perkataan Tuanku Laras menanyakan Kacak dan ketika Penghulu Kepala membawa Tuanku Laras bercakap ke dalam bilik. Sebab itu ia ingin hendak mengetahui bagaimana kesudahan pemeriksaan perkara itu. Pak Midun mengangguk-anggukkan kepala saja. Ia telah maklum selukbeluk perbuatan orang hendak mencelakakan anaknya. Apalagi kabar yang dikatakan Haji Abbas dengan rahasia kepadanya, tentang kejadian malam itu, makin meneguhkan kepercayaannya. Ngeri Pak Midun memikirkan, jika anaknya dapat bahaya pula. Tetapi senang pula hatinya, karena hal yang sangat mengerikan itu sekarang sudah terlepas.

Ketika Midun, ayah bunda, dan adik-adiknya sudah makan pagi itu, kedengaran orang batuk di halaman. Orang yang batuk itu ialah Haji Abbas; ia naik ke rumah. Setelah Haji Abbas duduk, kopi dan penganan pun dihidangkan oleh ibu Midun. Tidak lama kemudian Haji Abbas berkata, "Maklumlah Pak Midun sekarang, apa ujud orang menghukum Midun enam hari itu?" Sedang Pak Midun mengangguk-anggukkan kepala, menyatakan kebenaran perkataan Haji Abbas, Pendekar Sutan dan Maun naik pula ke rumah. Baru saja Pendekar Sutan duduk, Haji Abbas berkata sambil tersenyum dan menyindir, "Midun, saya dengar kabar bapakmu kena tikam semalam. Hampir saja kita berkabung hari ini. Waktu saya mendengar kabar itu, saya menyangka tentu Midun terburai perutnya kena pisau. Sedang bapaknya yang sudah termasyhur pendekar lagi kena, bahkan pula anaknya. Kiranya terbalik, anak selamat tetapi bapak... Ah, sungguh tak ada pendekar yang tidak bulus."

"Benar," ujar Pak Midun pula sambil tersenyum menyela perkataan Haji Abbas akan mengganggu Pendekar Sutan. "Agaknya langkah Pendekar Sutan sumbang malam tadi. Yang patut langkah maju, mundur ke belakang. Dan boleh jadi juga terlampau tinggi membuang tangan, ketika itu pisau bersarang ke rusuk Pendekar Sutan." Seisi rumah riuh tertawa, tetapi Pendekar Sutan merah mukanya mendengar sindiran mereka berdua. Ia pun berkata, "Mengatakan saja memang gampang. Jika Haji atau Pak Midun sebagai saya semalam, barangkali berbunyi cacing gelanggelang di perut ketakutan, setidak-tidaknya putih tapak melarikan diri. Sebabnya, pertama orang yang bertentangan dengan saya itu tidak sembarang orang, saya kenal benar akan dia. Kedua, kaki saya terperosok masuk lubang, dalam pada itu tikaman bertubi-tubi pula datangnya. Ketiga, hari gelap amat sangat, sedikit saja salah menangkis, celaka diri. Keempat, pikiran tak pula senang, memikirkan anak sedang
berkelahi. Biarpun Midun pendekar, begitu pula Maun, keduanya masih muda-muda, belum tahu tipu muslihat perkelahian. Lagi pula maling itu siap dengan alat senjatanya, tetapi kita tidak demikian benar."

Mendengar perkataan Pendekar Sutan, mereka keduanya berdiam diri, lalu Haji Abbas berkata, "Berbahaya juga kalau begitu? Cobalah ceritakan, supaya kami dengar. Siapa dan bagaimana orang yang berkelahi dengan Pendekar itu." "Untung dia dengan saya bertentangan," ujar Pendekar Sutan memulai ceritanya. "Orang itu ialah Ma Atang, seorang perampok, penyamun, pemaling, ya, seorang pembatak yang amat jahat. Nama Ma Atang telah dikenali orang di mana-mana sebab kejahatannya. Keberaniannya dan ketangkasan Ma Atang pun sudah termasyhur. Ia sudah tiga kali dibuang menjadi orang rantai. Ketiga kali pembuangannya itu ialah perkara pembunuhan dan perampokan di Palembayan dahulu. Sungguhpun demikian, perangainya yang jahat itu tidak juga berubah. Macam-macam kata orang tentang keberanian Ma Atang. Ada yang mengatakan ia kebal, tidak luput oleh senjata. Ada yang mengatakan, kepandaiannya bersilat sebagai terbang di udara. Bahkan ada pula orang yang mengatakan, bahwa ia tahu halimunan. Hati siapa takkan kecut, siapa yang takkan gentar berhadapan dengan orang macam itu. Apalagi hatinya hati binatang, tidak menaruh kasih mesra kepada sesamanya manusia. Asal akan beroleh uang, apa saja mau ia mengerjakannya. Nyawa orang dipandangnya sebagai nyawa ayam saja. Untung juga saya mengetahui Ma Atang itu setelah hadir di kantor Tuanku Lareh. Jika sebelum itu saya mengetahui Ma Atang, boleh jadi bergoyang iman saya, dan saya binasa olehnya.

Semalam, ketika saya mendekati akan memukul kepala Ma Atang itu, terinjak olehku ranting kayu. Bunyi itu didengarnya, lalu ia berbalik. Saat itu saya pergunakan, saya gada mukanya. Dengan tangkas ia mengelak, dicabutnya pisau dari pinggangnya. Hal itu tampak terbayang kepadaku. Saya tangkis pisau itu, lalu kami pun bergumul. Dalam perkelahian itu saya selalu maju dan merapatkan diri, sebab ia berpisau dan hari gelap. Sedikit pun tak saya beri kesempatan ia menikam. Ma Atang dapat saya tangkap, dan saya empaskan ke pohon kayu. Jangankan ia terempas, melainkan seakanakan tak menjejak tanah ia rupanya. Sebagai kilat cepat Mak Atang berbalik menikam saya. Ketika saya menyalahkan tikaman itu, kaki saya terperosok masuk lubang pemeram pisang... pangkal lengan saya pun kena. Waktu itu belum terasa apa-apa oleh saya kena pisau. Saya tarik kaki saya kuat-kuat, lalu saya menidurkan diri,
tetapi siap menanti. Dengan muslihat itu, pada pikiran Ma Atang tepat saja kena tikamannya. Dengan amuk sambil lari, diulangnya menikam saya sekali lagi. Masa itulah ia dapat saya kenai; tepat benar kaki saya mengenai...—maaf, ibu Midun— kemaluannya. Ia pun jatuh pingsan, Midun sudah dating mengikatnya."

Segala isi rumah ngeri mendengar cerita Pendekar Sutan. Lebih-lebih ibu Midun, sebentar-sebentar ia menjerit. Maklumlah seisi rumah itu sekarang, bagaimana keadaan Pendekar Sutan malam itu. Sebab itu Haji Abbas dan Pak Midun tidak lagi memperolok-olokkan adiknya. Kemudian Haji Abbas bertanya pula, "Engkau bagaimana pula lagi dengan musuhmu, Midun?"
"Bagi saya mudah saja, Bapak," ujar Midun. "Ketika Bapak Pendekar dan Maun datang, kami mufakat lalu berbagi-bagi. Yang di jalan bagian Maun, yang di pintu gapura bagian Bapak Pendekar Sutan, dan yang masuk rumah bagian saya. Maun kami larang menyerang, supaya dapat menolong kami, kalau ada yang kena. Sungguhpun demikian ia selalu siap. Saya tahu,
bahwa jarak maling itu dengan temannya berjauhan. Saya pun merangkak ke tangga, di pintu tempat ia masuk. Karena anak tangga itu betung, dengan mudah saya buka anaknya sebuah.
Saya pun berdiam diri dekat tangga itu menantikan dia turun. Tidak lama, maling itu turun sambil memikul barang curiannya. Waktu ia turun semata anak tangga, kakinya tergelincir, jatuh ke bawah. Ketika itulah saya gada kepalanya sekuat-kuat tenaga saya. Saya sangka tentu ia terus pingsan. Tetapi tidak, ia bergerak lagi hendak menyerang saya. Saya pukul lagi mukanya, ia pun pingsan tak sadarkan dirinya."

Setelah tamat pula cerita Midun, Haji Abbas bertanya pula, "Engkau bagaimana pula dengan musuhmu, Maun?" "Saya tidak menyerang, melainkan berdiam diri saja dekat jalan," ujar Maun. "Waktu saya mendengar Mamak Pendekar Sutan berkelahi, tiba-tiba saya bertumbuk dengan seseorang yang rupanya hendak melarikan diri. Dengan segera saya pukul akan dia. Entah kepala, entah punggungnya yang kena, saya tidak tahu. Tetapi dia terus juga lari. Kalau saya kejar tentu dapat, tetapi saya tidak menepati janji. Lagi pula saya takut akan digada teman-teman yang sudah berkeliling mengepung rumah itu. Saya segera mendapatkan Midun, dan dia saya suruh menolong Mamak Pendekar. Maling yang dipukul Midun itu lalu saya ikat." Haji Abbas mengangguk-anggukkan kepala, terkenang kepada Kacak yang mengaduh kena kakinya semalam itu. Menurut pikiran Haji Abbas, tak dapat tiada orang yang lari dipukul Maun dan yang kena sepaknya itu, ialah Kacak.

Setelah adik-adik Midun disuruh pergi bermain, lalu Haji Abbas berkata, "Midun dan Maun, cerita bapakmu tadi banyak yang patut engkau ambil jadi teladan. Demikianlah hendaknya muslihat jika berkelahi dengan orang yang memegang pisau. Dalam perkelahian yang tidak memakai pisau pun, ada juga tipunya. Misalnya mengumpan orang dengan pura-pura menyumbangkan langkah. Tetapi manakala dalam perkelahian banyak, artinya engkau seorang dipersama-samakan orang, jangan sekali-kali maju. Hendaklah engkau selalu mengundurkan diri, sambil menangkis serangan orang. Dan kalau dapat, carilah tempat yang tiga persegi, yang dinamakan orang: kandang sudut. Di tempat itu, sukarlah orang mengenai kita." Maka Haji Abbas menerangkan dengan panjang lebar, bagaimana tipu muslihat dalam perkelahian kepada Midun dan Maun. Untuk menjadi misal, Haji Abbas menceritakan keadaannya dengan Pak Midun semasa muda. Kemudian Haji Abbas menyambung perkataannya, "Rupanya waktu Ma Atang berkelahi dengan Pendekar Sutan, nyata bahwa Ma Atang hendak membunuh lawannya benar. Jika saya tidak salah tampa, tak dapat tiada Pendekar Sutan disangkanya Midun. Orang yang dipukul Maun itu, pada hemat saya tentu Kacak. Sudah dapat pukulan dari Maun, dapat bagian pula dari saya. Tetapi Kacak sekali-kali tidak tahu, bahwa sayalah yang bertemu dengan dia. Ingatlah, hal ini harus dirahasiakan benar-benar. Cukuplah kita yang enam orang ini saja mengetahuinya. Perkara Midun ini rupanya sudah dicampuri orang tua-tua. Sebab itu jika kurang hati-hati, tentu kita celaka. Kita ini hanya orang biasa saja, tetapi Kacak kemenakan Tuanku Lareh. Yang akan datang, hendaklah engkau ingat-ingat benar dalam hal apa juapun, Midun. Ingat sebelum kena, hemat sebelum habis, jerat serupa dengan jerami. "Baiklah, Bapak," ujar Midun. "Hingga ini ke atas saya akan berhati-hati benar. Dalam pada itu jika sudah saya ikhtiarkan, tetapi datang juga bencana atas diri saya, apa boleh buat, Bapak."

Dari sehari ke sehari Midun menanti panggilan tidak juga datang. Habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan, Midun tidak juga dipanggil akan diperiksa tentang maling yang ditangkapnya itu. Ada yang mengatakan, bahwa maling itu sudah dikirim ke Bukittinggi. Setengahnya pula berkata, "Sungguh amat ajaib perkara ini. Semalam kemalingan di rumah istri Kacak, besoknya Kacak jatuh sakit. Padahal Kacak tidak ada di rumah istrinya malam kemalingan itu. Dan lagi perkara itu didiamkan saja, seolah-olah ada berudang di balik batu. Jangan-jangan pencurian itu ada bertali dengan sesuatu hal yang muskil, yang tidak diketahui orang." Demikianlah perkara itu: terapung tak hanyut, terendam tak basah, hingga sampai Kacak sembuh, Midun belum juga terpanggi




[+/-]ЯeadMore.

Sengsara Membawa Nikmat (part 4)

Untuk sekedar terus mengenang karya Sutan Sati yang menggema diera 1990-an......
********************************************************************************


PADA suatu hari, pasar di kampung itu sangat ramai. Dari segala tempat banyak orang datang. Ada yang berbelanja, ada pula yang menjual hasil tanamannya. Saudagar-saudagar kecil banyak pula datang dari Bukittinggi ke pasar itu. Mereka pergi menjual kain-kain dan ada pula yang membeli hasil tanah. Tidak heran pekan seramai itu, karena tak lama lagi hari akan puasa. Pekan sedang ramai, orang sedang sibuk berjual-beli, sekonyong-konyong kedengaran teriak orang mengatakan, "Awas, Pak Inuh lepas! Pak Inuh lepas! Dia membawa pisau!"

Orang di pasar berlarian ke sana kemari. Mereka lari menyembunyikan diri, karena takut kepada Pak Inuh. Yang berkedai meninggalkan kedainya, yang berbelanja meninggalkan barang yang telah dibelinya. Sangat sibuk di pasar ketika itu. Berkacau-balau tidak berketentuan lagi. Adapun Pak Inuh itu, ialah seorang kampung di sana, keluarga Tuanku Laras. Ia sudah berumur lebih dari 45 tahun. Semasa muda, Pak Inuh seorang yang gagah berani. Lain daripada Haji Abbas, seorang pun tak ada yang diseganinya masa itu. Orang kampung segan dan takut kepadanya. Ketika Tuanku Lareh menjadi Penghulu Kepala di kampung itu, timbul perusuhan. Waktu itu boleh dikatakan Pak Inuhlah yang mengamankan negeri. Dengan tidak meminta bantuan kepada pemerintah, diamankan Pak Inuh kampung itu kembali. Apakah sebabnya orang takut Pak Inuh datang ke pasar itu?

Pak Inuh sekarang sudah bertukar pikiran. Ia sudah menjadi gila. Sudah empat tahun sampai kepada masa itu pikirannya tak sempurna lagi. Dalam empat tahun itu Pak Inuh tidak dibiarkan
keluar lagi oleh Tuanku Lareh. Jika dilepaskan selalu mengganggu orang. Maka oleh Tuanku Lareh dibuatkan sebuah rumah untuk tempat Pak Inuh tinggal. Entah apa sebabnya hari itu ia
dapat melepaskan diri. Hal itu terjadi sudah yang kedua kalinya. jika datang ke pasar ia merajalela saja. Barang-barang orang diperserak-serakkannya. Disepakkannya ke sana kemari, orang di pasar diburunya sambil berteriak-teriak. Jika dapat orang olehnya, dipukul dan diterjangkannya. Sekarang Pak Inuh datang ke pasar membawa pisau. Hal itu lebih menakutkan lagi. Seorang pun tak ada yang berani mendekati, apalagi akan menangkap, karena Pak Inuh berpisau, lagi seorang yang berani. Meskipun ada yang akan menangkap, takut kepada Tuanku Lareh. Maka dibiarkan orang saja ia mengacau di tengah pasar itu. Jika tidak Tuanku Lareh sendiri, sukarlah akan menangkapnya. Tetapi Tuanku Lareh tak ada beliau pergi ke Bukittinggi.

Pak Inuh makin ganas lakunya ditengah pasar. Sungguh amat sedih hati melihat kejadian itu.
Laki-laki perempuan tunggang-langgang melarikan diri. Anakanak banyak yang terinjak, karena terjatuh. Di sana sini kedengaran jerit orang, mengaduh karena sakit sebab terantuk atau jatuh. Lebih-lebih lagi melihat perempuan-perempuan yang sedang mendukung anak. Anak dipangku, beban dijunjung sambil melarikan diri jua. Midun ketika itu ada pula di pasar. Dia sedang duduk di dalam sebuah lepau nasi. Kejadian itu nyata kelihatan olehnya. Midun hampir-hampir tak dapat menahan hatinya. Amat sedih hatinya melihat perempuan-perempuan berlarian ke sanakemari.
Pikirnya, "Akan diberitahukan kepada Tuanku Lareh, beliau pergi ke Bukittinggi. Tentu saja Pak Inuh merusakkan orang di pasar ini. Pada tangannya ada sebuah pisau. Takkan satu bangkai terhantar karena dia. Hal ini tidak boleh dibiarkan saja."

Ketika Midun melihat seorang perempuan diinjak-injak oleh Pak Inuh, ia pun melompat ke tengah pasar mengejar Pak Inuh. Baru saja Pak Inuh melihat Midun, ia berkata, "Heh, anak kecil,
ini dia makanan pisauku!" Sambil melompat lalu diamuknya Midun. Midun sedikit pun tidak berubah warna mukanya. Kedatangan Pak Inuh dinantinya dengan sabar. Segala orang yang melihat keadaan itu sangat ngeri. Lebih-lebih perempuan-perempuan, berteriak menyuruh
Midun lari, karena cemas dan takut. Dengan tangkas Midun menyambut pisau itu. Dalam sesaat saja pisau Pak Inuh dapat diambilnya. Pisau itu segera dilemparkan Midun jauh-jauh, dan disuruhnya pungut kepada orang. Pak Inuh sangat marah, lalu menyerang Midun sekuat-kuatnya. Dengan mudah dapat ia menjatuhkan Pak Inuh, lalu ditangkapnya. Bagaimana pun Pak
Inuh hendak melepaskan diri, tidak dapat. Midun berkata, "Sabarlah, Mamak, takkan terlepaskan tangkapanku ini oleh Mamak." Maka Midun menyuruh mengambil tali untuk pengikat Pak Inuh. Setelah sudah diikat, lalu ditipunya. Dibawanya ke lepau nasi, diberikannya makan. Luka pada kening Pak Inuh karena terjerumus, dibebat Midun. Kemudian diantarkannya pulang ke rumah famili Pak Inuh.

Sehari-hari dan itu Midun saja yang dipercakapkan orang. Tua muda, kecil besar, laki-laki perempuan di pasar memuji keberanian dan ketangkasan Midun menangkap Pak Inuh. Ketiga bapak Midun amat heran mendengar kabar itu. Mereka ketiga maklum bagaimana keberanian dan pendekar Pak Inuh. Perbuatan Midun itu dipuji oleh mereka ketiga. Hanya mereka itu khawatir, kalau-kalau famili Tuanku Laras tak bersenang hati, karena Pak Inuh luka. Tetapi ketiganya percaya pula, kalau Tuanku Lareh berpikir panjang, hal itu tidak akan menimbulkan amarah, melainkan menyenangkan hati beliau. Bukankah perbuatan Midun menjaga keamanan dan keselamatan negeri.

Kacak ada pula mendengar kabar itu. Waktu hal itu terjadi, ia ada di kantor Tuanku Lareh. Dengan segera ia berlari akan melihat Pak Inuh. Didapatinya Midun tak ada lagi. Pak Inuh, yakni jalan mamak kepada Kacak, telah ada di rumah. Tatkala Kacak melihat Pak Inuh luka pada keningnya, lalu ia bertanya kepada seseorang, bagaimana Midun menangkap mamaknya. Orang itu menceritakan bagaimana penglihatannya ketika Midun menangkap Pak Inuh.

"Jika tak ada Midun," ujar orang itu, "barangkali banyak bangkai terhantar di tengah pasar. Untung, pisau yang di tangan Pak Inuh lekas dapat diambil Midun."
"Apakah sebabnya, maka Pak Inuh sampai luka ini?" ujar Kacak dengan marah.
Jawab orang itu, "Karena tersungkur waktu Midun menyalahkan tikaman Pak Inuh."
Kacak jangankan memuji Midun mendengar perkataan itu, makin sakit hatinya. Ia sangat marah karena Midun berani melukai famili Tuanku Lareh.

"Sekarang nyata, bahwa Midun musuhku," kata Kacak dalam hatinya. "Sudah engkau lukai mamakku, engkau bebat. Maksudmu tentu supaya kami jangan marah. Kurang ajar sungguh!
Hati-hati engkau, besok dapat bagian daripadaku. Bila Tuanku Laras pulang dari Bukittinggi, kuceritakan hal itu kepadanya. Anak si peladang jahanam, berani melukai famili raja di kampung ini?!"

Pada keesokan harinya pagi-pagi datanglah dubalang Tuanku Lareh, memanggil Midun ke rumah orang tuanya. Midun didapatinya sedang makan. Dubalang berkata, "Midun, Tuanku Lareh memanggil engkau sekarang juga!"
"Baiklah, Mamak, saya sudah dulu makan," jawab Midun.
"Berhenti makan! Beliau menyuruh lekas datang!" ujar dubalang dengan hardiknya. Dengan tergopoh-gopoh Midun mencuci tangan, lalu berangkat ke kantor Tuanku Lareh. "Tunggu," kata dubalang pula, "engkau mesti dibelenggu, karena begitu perintah saya terima."
"Apakah kesalahan saya, maka dibelenggu macam seorang perampok, Mamak!" kata Midun.
"Saya tidak tahu, di sana nanti jawab," ujar dubalang.

Midun amat heran, apa sebabnya ia dibelenggu itu. Pikirannya berkacau, karena ia tidak tahu akan kesalahannya. Dengan tangan dibelenggu, ia diiringkan dubalang melalui pasar. Sangat malu Midun, tak ada ubahnya sebagai seorang yang bersalah besar. Tetapi apa hendak dibuat, terpaksa mesti menurut. Bermacam - macam timbul pikirannya sepanjang jalan ke kantor Tuanku Lareh. Kemudian maklum juga ia, bahwa yang menyebabkan ia dipanggil itu, tak dapat tiada perkara Pak Inuh kemarin. Karena lain daripada itu Midun merasa dirinya tidak bersalah. Maka tetaplah pikirannya, bahwa ia difitnahkan orang. Mengerti pula ia masa itu, apa sebabnya ia dibelenggu dan dikerasi. Tentu Pak Inuh luka itu diambilnya jadi senjata untuk memfitnahkan. Ketika itu terbayang kepada Midun orang yang empunya perbuatan itu. Maka terkenanglah ia akan pemandangan Kacak yang berarti dahulu.

"Tidak mengapa," kata Midun dalam hatinya. "Asal Tuanku Lareh sudi mendengar keterangan saya, tentu beliau insaf, bahwa saya berbuat baik. Dan pasti beliau akan memuji saya, karena pekerjaan saya itu menjaga keamanan negeri." Midun berbesar hati, lalu berjalan dengan senangnya. Tidak terasa Iagi oleh Midun tangannya dibelenggu, sebab pekerjaannya kemarin itu baik semata-mata. Orang di pasar heran melihat Midun dibelenggu. Mereka takjub melihat Midun sebagai pencuri tertangkap, padahal ia seorang alim dan berbudi. Seorang bertanya kepada seorang, akan hal Midun dibawa dubalang itu. Ada satu-dua orang berkata bahwa Midun dipanggil, berhubung dengan penangkapan Pak Inuh kemarin. tetapi perkataan itu disangkal orang pula mengatakan, bahasa hal itu tidak boleh jadi, karena perbuatan Midun kemarin mendatangkan kebaikan. Kalau karena perkara Pak Inuh tentu ia tidak dibelenggu. Bermacam-macam persangkaan orang tentang Midun dibelenggu itu. Karena itu banyak orang yang mengiringkannya ke kantor Tuanku Lareh, ingin tahu apa sebabnya Midun dipanggil itu.

Ayah bunda Midun amat gusar melihat kedatangan dubalang dan anaknya dibelenggu itu. Lebih-lebih ibu Midun, hampir ia berteriak menangis, karena amat sedih hatinya melihat anak
kesayangannya itu dibelenggu sebagai seorang perampok baru tertangkap. Untunglah Pak Midun lekas menyabarkannya, dan menerangkan apa sebabnya Midun dipanggil itu. Pak Midun
mengerti apa yang dipanggilkan Tuanku Laras kepada anaknya. Lain tidak tentang perkara Pak Inuh ditangkap Midun kemarin itu. Tetapi ia amat heran, karena anaknya dibelenggu dengan kekerasan. Dengan tergesa-gesa Pak Midun makan. Setelah itu ia pun pergi ke kantor Tuanku Laras mendengarkan perkara anaknya. Di jalan Pak Midun sebagai orang bingung saja, pikirannya melayang entah ke mana. Jika ia ditegur orang hendak bertanyakan hal anaknya, seolah-olah tidak terdengar olehnya, karena kepalanya penuh dengan pikiran. Waktu Midun hampir sampai di kantor, dari jauh sudah kelihatan olehnya Tuanku Lareh berdiri di beranda kantor. Setelah dekat Midun tidak berani melihat muka Tuanku Lareh, karena dilihatnya Tuanku Lareh sebagai orang hendak marah. Dengan suara menggelegar sebab menahan marah, Tuanku Laras berkata,
"Awak yang bernama Midun?"
"Hamba, Tuanku," jawab Midun.
"Masuk ke dalam," kata Tuanku Lareh dengan hardiknya.

Setelah Midun masuk ke dalam, orang lain disuruh pergi. Maka Tuanku Lareh bertanya pula dengan marahnya, "Berani benar rupanya awak memukul orang gila, sampai luka-luka. Apa yang awak sakitkan hati kepada Pak Inuh yang tak sempurna akal itu? Kurang ajar betul awak, ya kerbau!"
"Bukannya demikian, Tuanku!" jawab Midun. Lalu diceritakanlah oleh Midun dari bermula sampai penghabisan kejadian kemarin itu. Tetapi Tuanku Lareh sedikit pun tidak mengindahkan
perkataan Midun. Jangankan Tuanku Lareh reda marahnya, melainkan bertambah-tambah. Midun menundukkan kepala saja, karena Tuanku Lareh memaki dia dengan tidak berhenti-henti.

Setelah puas Tuanku Lareh berkata, maka Midun menjawab pula dengan sabar, katanya, "Luka Pak Inuh itu karena beliau jatuh sendiri. Sekali-kali tidak hamba yang melukai beliau, Tuanku. Jika tidak ada hamba kemarin, entah berapa bangkai bergulingan, karena beliau memegang senjata. Jika Tuanku kurang percaya atas keterangan hamba itu, cobalah Tuanku tanyakan kepada orang lain. Tetapi jika hamba bersalah berbuat demikian, ampunilah kiranya hamba, Tuanku."

Mendengar perkataan itu, adalah agak kurang marah Tuanku Lareh sedikit. Tetapi karena pengaduan Kacak termasuk benar ke dalam hatinya, lalu ia berkata, "Sebetulnya awak mesti diproses perbal dan dibawa ke Bukittinggi* (ke kantor Tuan Assistant Resident Fort de Kock). Tetapi sekali ini saya maafkan. Sebagai ajaran supaya jangan terbiasa, awak dapat hukuman enam hari. Awak mesti mengadakan rumput kuda empat rajut sehari. Sudah menyabit rumput, awak bekerja di kantor ini dan jaga malam."

Midun berdiam diri saja mendengar putusan itu. Ia tak berani menjawab lagi, sebab dilihatnya Tuanku Lareh marah. Waktu ia akan ke luar kantor, lalu ia berkata, "Bolehkah hari ini hamba jalani hukuman itu, Tuanku?"
"Ya, boleh, hari ini mulai, " ujar Tuanku Laras dengan sungutnya. Midun segera ke luar, lalu diceritakannya kepada ayahnya, apa sebab ia dipanggil, dan hukuman yang diterimanya. Mendengar putusan itu, lapang juga dada Pak Midun, karena anaknya tidak masuk proses perbal dan tidak dibawa ke Bukittinggi.
Maka Pak Midun herkata, "Terimalah dengan sabar, Midun! Asal di kampung ini, apa pun juga macam hukuman tidak mengapa. Besar hati saya engkau tidak dibawa ke Bukittinggi. Tetapi tidak patut engkau menerima hukuman, karena engkau tidak bersalah. Engkau berbuat pekerjaan baik, tetapi hukuman yang diterima; apa boleh buat. Bukankah Tuanku Lareh raja kita dapat menghitamputihkan negeri ini." Midun berdiam diri saja mendengar kata ayahnya. Tetapi orang yang mengiringkannya bersungut-sungut semuanya mendengar putusan itu. Midun terus pulang mengambil sabit dan rajut rumput. Sampai di pasar, banyak orang mengerumuninya, akan bertanyakan perkaranya dipanggil itu. Midun menerangkan, bahwa ia dihukum enam hari karena menangkap dan melukai Pak Inuh. Dan hal itu menurut pikiran Midun sudah patut, sebab ia melukai orang. Tetapi segala orang yang mendengar menggigit bibir, karena pada pikiran mereka itu, tak patut Midun dihukum. Mereka itu berkata dalam hati,
"Tidak adil! Untung luka sedikit, sebetulnya harus dibunuh serigala itu. Kalau tak ada Midun, barangkali banjir darah di pasar kemarin. Kurang timbangan, tentu beliau mendengar asutan orang."

Banyak orang kampung itu yang suka menggantikan hukuman Midun. Ada pula yang mau menyabit rumput sepuluh rajut sehari dan menjaga kantor siang-malam, asal Midun dilepaskan. Tetapi permintaan mereka itu sama sekali ditolak oleh Midun. Katanya, "Siapa yang berutang dialah yang membayar, dan siapa yang bersalah dia menerima hukuman. Saya yang bersalah, saudara-saudara yang akan dihukum, itu mustahil. Biarlah saya dihukum, tak usah ditolong. Atas keikhlasan hati sanak-saudara itu, saya ucapkan terima kasih banyak-banyak."

Sesudah Midun menyabit rumput, lalu bekerja lain pula. Membersihkan kandang kuda, mencabut rumput di halaman kantor. Habis sebuah, sebuah lagi dengan tidak berhentihentinya.
Segala pekerjaan itu dimandori oleh Kacak. Ada-ada saja yang disuruhkan Kacak. Sehari-harian itu Midun tak menghentikan tangan. Untuk membuat rokok saja, hampir tak sempat. Jika Midun berhenti sebentar karena lelah, Kacak sudah menghardik, ditambah pula dengan perkataan yang sangat kasar. Mengambil air mandi dan mencuci kakus, Midun juga disuruhnya. Pada malam hari Midun tak dapat sedikit juga menutup mata sampai-sampai pagi. Tiap-tiap jam Kacak dating memeriksa Midun berjaga atau tidaknya. Demikianlah penanggungan Midun dari sehari ke sehari. Dengan sabar dan tulus, hal itu dideritanya. Apa saja yang disuruhkan Kacak, diturut Midun dengan ikhlas. Berbagai-bagai siksaan Kacak kepada Midun, hingga pekerjaan yang berat, yang tak patut dikerjakan Midun disuruhnya kerjakan. Siang bekerja keras, malam tak dapat tidur. Hampir Midun tidak kuat lagi bekerja. Dalam tiga hari saja, Midun tak tegap dan subur itu sudah agak kurus dan pucat. Orang di kampung itu sangat kasihan melihat Midun telah jauh kurusnya. Apalagi ibu Midun, selalu menangis bila melihat rupa Midun yang sudah berubah itu. Tetapi pada Midun hal itu tidak menjadi apa-apa. Ia, selalu memohonkan rahmat Tuhan, agar kekuatannya bertambah, sampai kepada hukumannya habis dijalaninya. Dipohonkannya pula, moga-moga hati Kacak disabarkan Allah daripada menganiaya sesama makhluk.

Bila ibunya menangis melihat dia, Midun berkata, "Sabarlah, Ibu, jangan menangis juga. Ini baru siksaan dunia yang hamba rasai, di akhirat nanti entah lebih daripada ini penanggungan kita. Bukankah tiap-tiap sesuatu itu telah takdir Tuhan, Ibu! Jadi apa yang terjadi atas diri kita tak boleh disesali, karena perbuatan itu sama halnya dengan mengumpat Tuhan jua. Oleh karena
itu, senangkanlah hati Ibu, takkan apa-apa. Tuhan ada beserta hamba. Hamba pucat dan kurus ini, karena baru bekerja berat. Hal ini bukankah baik untuk pelajaran hidup, Ibu!"

Pada hari yang kelima Midun hampir-hampir tak berdaya lagi. Ketika ia membawa rumput ke kandang kuda, lalu jatuh tersungkur. Kacak melompat, lalu berkata sambil memukul, "Inilah balasan engkau melukai mamakku. Rasai olehmu sekarang! Jangan pura-pura jatuh, bangun apa tidak!?" Par! Pukulan Kacak tiba di.punggung Midun. Midun hamper gelap pemandangannya. Kalau tidak lekas ia menyabarkan hatinya, tak dapat tiada sabitnya masuk perut Kacak. Dengan perlahan-lahan ia bangun, lalu berkata, "Janganlah terlalu amat menyiksa saya, Engku Muda! Kesalahan saya tidak seberapa, tidak berpadanan dengan siksaan yang saya tanggung. Saya lihat Engku Muda seperti membalaskan dendam. Apakah dosa saya kepada Engku Muda? Terangkanlah, kalau nyata saya bersalah, apa pun juga hukuman yang Engku jatuhkan, saya terima."

"Memang engkau musuhku, jahanam!" ujar Kacak dengan bengis. "Engkaulah yang mengasut orang benci kepadaku. Engkau hendak jadi raja di kampung ini, binatang!" Dengan marah amat sangat Midun dipukul, ditinju dan diterajangkan oleh Kacak. Dibalaskannya sakit hatinya yang selama ini. Untunglah hal itu lekas dilihat Tuanku Lareh dari beranda kantor. Tuanku Laras segera memisahkan, dan berkata, "Hendak membunuh orang engkau, Kacak?" Mendengar suara itu, baru Kacak berhenti daripada memukul Midun. Jika tak ada Tuanku Lareh, entah apa jadinya. Boleh jadi Midun membalas, boleh jadi pula Midun binasa, sebab sudah tidak berdaya lagi.

Pada keesokan harinya, Midun jatuh sakit. Hari itu ia tidak kuat lagi menyabit rumput. Pagi-pagi benar Pak Midun telah pergi menggantikan anaknya menyabit rumput. Belum lagi matahari terbit, rumput empat rajut itu telah diantarkannya ke kandang kuda. Kemudian ia pergi kepada Tuanku Lareh menerangkan, bahwa anaknya sakit keras. Ia memohonkan hukuman yang tinggal sehari itu, dia saja menjalankannya. Baru saja Tuanku Lareh akan menjawab, Haji Abbas datang pula ke kantor itu. Atas nama guru dan bapak Midun, ia memintakan ampun muridnya. Apalagi Midun ketika itu di dalam sakit. Maka Tuanku Lareh berkata, katanya, "Karena permintaan Haji, saya ampuni Midun. Tetapi saya harap anak itu diajar sedikit, jangan sampai begitu kurang ajar. Terlalu, ya, sungguh terlalu, melukai orang gila. Orang yang tak sempurna akal, tentu tidak mengerti apa-apa. Kalau dilawan, tentu kita jadi gila juga."

Haji Abbas dan Pak Midun diam saja mendengar perkataan itu. Kemudian mereka bermohon diri dan meminta terima kasih atas ampunan yang dilimpahkan kepada Midun itu. Di jalan sampai pulang, keduanya tidak bercakap-cakap sepatah jua pun. Mereka tahu bahwa perkataan Tuanku Lareh itu kepadanyalah tujuannya. Karena itu amat pedih hati mereka, padahal anaknya tidak bersalah. Tetapi apa hendak dikatakan, mereka bertentangan dengan raja di kampung itu. Setelah sampai di rumah, lama mereka itu duduk berpandang-pandangan. Haji Abbas amat sedih hatinya melihat Midun yang telah kurus dan pucat itu. Dengan tak diketahui, air mata Haji
Abbas telah berleleran di pipinya. Tidak lama antaranya, Haj Abbas berkata, "Apamukah yang sakit, Nak? Apakah sebabnya maka engkau sakit ini?"
Dengan perlahan-lahan Midun menjawab,"... Bapak...! Karena bekerja terlalu berat. Kalau saya tahu akan begini, mau saya dibawa ke Bukittinggi daripada dihukum di sini. Kacak rupanya musuh dalam selimut bagiku. Entah apa dibencikannya, tiadalah saya tahu. Malah seperti orang melepaskan sakit hati ia rupanya. Tetapi saya belum merasa bersalah kepada Kacak. Tak boleh jadi karena saya melukai Pak Inuh, Kacak menyiksa saya. Seakan-akan sudah lama ia menaruh dendam kepada saya. Biarlah, Bapak, karena tiap-tiap sesuatu itu dengan kehendak Tuhan. Siksaan kepada saya itu saya serahkan kepada Yang Mahakuasa. Penyakit saya ini tidaklah membahayakan. Selama sakit akan sembuh, selama susah akan senang."

Lama Haji Abbas termenung memikirkan perkataan Midun itu. Kemudian ia berkata kepada Pak Midun, katanya, "Anak kita dikasihi orang di kampung ini; tetapi Kacak dibenci orang, karena tingkah lakunya tidak senonoh. Tidak ada ubahnya sebagai anak yang tidak bertunjuk berajari. Karena angkaranya, orang lain ini binatang saja pada pemandangannya. Boleh jadi ia sakit hati, karena Midun banyak sahabat kenalannya. Siapa tahu Midun dihukum ini, barangkali karena perbuatan Kacak. Tetapi itu menurut persangkaan saya saja. Tentu dengan gampang saja ia melepaskan dendam, sebab ada Tuanku Lareh yang akan dipanggakkannya* (Dimegahkannya)."

"Benar perkataan Bapak itu," ujar Midun pula. "Saya rasa begitulah. Waktu berdua belas di masjid dahulu, sudah salah juga penglihatannya kepada saya. Ketika ia melihat hidangan bertimbun-timbun di hadapan saya, tampak kebenciannya kepada saya. Begitu pula ketika ia salah menyabut raga yang saya berikan kepadanya, saya hendak ditinjunya. Dan dalam mengirik baru-baru ini, makin nyata juga iri hatinya itu. Sejak itu saya tegur dia tidak menyahut lagi. Bila melihat saya ia meludah-ludah dan muram saja mukanya."

"Boleh jadi," kata Pak Midun, "dubalang Lingkik ada mengatakan, bahwa Kacak benci benar melihat orang banyak di sawah Midun. Lebih-lebih melihat orang di sawah itu bergurau senda, marah ia rupanya." "Nah, sebab itu ingatlah engkau yang akan datang, Midun!" ujar Haji Abbas. "Dia itu kemenakan raja kita. Tiba di perut dikempiskannya, tiba di mata dipejamkannya. Insaflah engkau akan perbuatanmu yang sudah itu. Sama sekali orang memuji perbuatanmu, tetapi hasilnya engkau dapat hukuman."

Ada kira-kira sebulan, baru Midun sembuh daripada sakit. Badannya segar, kembali bagai semula. Sejak itu Midun tidak kerap kali lagi ke pasar. Jika tidak perlu benar, tidaklah ia pergi. Sedangkan rokok, ibunya saja yang membelikan dia di pasar. Malam mengaji, siang ke huma, demikianlah kerja Midun setiap hari. Pulang dari huma, ia mengerjakan pekerjaan tangan. Sekali-sekali ia menolong adiknya menggembalakan ternak.




[+/-]ЯeadMore.

Sengsara Membawa Nikmat (part3)

Untuk sekedar terus mengenang karya Sutan Sati yang menggema diera 1990-an......
********************************************************************************



SUDAH umum pada orang kampung itu, manakala ada pekerjaan berat, suka bertolong-tolongan. Pekerjaan yang dilakukan dengan upah hampir tak ada. Apalagi di dalam bahaya, misalnya kebakaran, mereka itu tidak sayang kepada dirinya untuk menolong orang sekampung. Tidak di kampung itu saja, melainkan di seluruh tanah Minangkabau, boleh
disebutkan sudah turun-temurun pada anak negeri, suka bertolong-tolongan itu. Misalnya di dalam hal ke sawah, mendirikan rumah, dan lain-lain pekerjaan yang berat.

Musim menyabit sudah hampir datang. Ketika itu tidak lama lagi hari akan puasa. Setiap hari tidak putus-putusnya bendi membawa orang dari Bukittinggi, berhenti di pasar kampong itu. Mereka itu baru pulang, karena sudah beberapa tahun lamanya berdagang mencari penghidupan di negeri orang. Karena itu hampir setiap hari orang ramai di pasar. Banyak
orang menanti kaum keluarganya yang baru datang. Tiap-tiap bendi kelihatan dari jauh, hati mereka itu harap-harap cemas, kalau-kalau di atas bendi itu sanak, mamak, adiknya, dan lainlain. Dalam beberapa hari saja kampung itu sudah ramai, karena orang yang pulang merantau itu. Lain tidak yang dipercakapkan orang, hal orang yang baru pulang saja. Begitu pula yang datang, menceritakan penanggungannya masing-masing, selama bercerai dengan kaum keluarganya. Bahkan menceritakan keadaan negeri tempatnya berdagang itu, tidak pula dilupakannya.

Tidak lama kemudian kedengaranlah si A yang pulang dari negeri Anu, sudah membeli sawah untuk adik dan ibunya. Si B yang pulang dari negeri Anu pula, sudah membuatkan rumah untuk familinya dan lain-lain. Bermacam-macam kedengaran, banyak di antara mereka itu yang melekatkan uang pencahariannya kepada barang yang baik bakal hari tuanya kelak. Hal itu sangat menarik hati kepada orang yang tinggal di kampung, ingin hendak pergi merantau pula. Tetapi ada pula yang miskin dan melarat pulang masa itu.

Pada suatu malam Pak Midun berkata kepada anaknya, "Midun! beritahukanlah kepada kawan-kawanmu, bahwa hari Ahad yang akan datang ini kita akan mengirik padi di sawah. Begitu pula kepada Pendekar Sutan dengan murid-muridnya. Orang lain yang engkau rasa patut dipanggil, panggillah! Sekali ini biarlah kita memotong kambing untuk penjamu orang yang datang mengirik ke sawah kita. Saya rasa takkan berapa bedanya menyembelih kambing dengan membeli daging di pasar."

"Engkau pula, Polam," kata Pak Midun sambil berpaling kepada istrinya, "katakanlah kepada kaum keluarga, bahwa kita akan mengirik padi hari Ahad itu. Ipar besan yang patut diberi tahu, orang sekampung yang akan dipanggil untuk mengirai dan mengangin padi dan orang-orang yang akan menolong kerja dapur. Hal itu semuanya pekerjaanmu." Ibu dan anak itu menganggukkan kepala, membenarkan perkataan suami dan bapaknya.


Kemudian Midun berkata, "Karena kita akan memotong kambing, tidak baikkah jika kita ramaikan kerja itu dengan puput, salung, dan pencak sekadarnya, Ayah?"
"Hal itu lebih baik engkau mufakati dengan mamakmu, Datuk Paduka Raja. Saya telah memberitahukan kepadanya,hanya akan mengirik padi hari Ahad saja. Jika sepakat dengan
mamakmu, apa salahnya, lebih baik lagi."
"Baiklah, Ayah! Sekarang juga saya cari beliau. Sudah itu saya pergi kepada Bapak Pendekar Sutan."

Hari Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik padi ke sawah. Sampai di sawah iapun menebas tunggul batang padi untuk orang mengirik. Setelah itu dibuatnya pula sebuah
dataran untuk orang bermain pencak, berpuput-salung, dan sebagainya. Maka dikembangkannyalah tikar tempat orang mengirik. Sudah itu diturunkannya seonggok demi seonggok padi itu daripada timbunannya. Tidak lama antaranya kelihatanlah orang datang ke sawah orang tua Midun. Berduyun-duyun, sebondong-sebondong amat banyaknya. Segala orang itu dengan tertib sopan diterima oleh Midun beserta bapaknya, lalu dipersilakannya duduk dahulu ke tikar yang telah disediakan untuk penerima tamu. Dengan hormat, Midun meletakkan cerana tempat sirih di muka orang banyak. Rokok yang sudah disediakannya untuk itu, tidak pula dilupakannya.

Setelah beberapa lama mereka itu bercakap-cakap ini dan itu, maka dimulailah mengirik padi. Midun kerjanya hanyalah mengambil padi yang sudah diirik orang. Perempuanperempuan
sibuk mengirai jerami yang sudah diirik. Amat ramai orang di sawah Midun. Sorak dan senda gurau orangorang muda tidak ketinggalan. Tertawa dan cumbu tidak kurang. Suka dan bersenang hati benar rupanya orang mengirik padi di sawah Midun yang baik hati itu. Bunyi hentam orang mengirik akan menyatakan, bahwa padi yang diiriknya sudah habis, sebagai orang menumbuk padi. Belum tinggi matahari naik, selesailah diirik padi setimbunan besar itu.
Sesudah itu maka segala orang itu dipersilakan oleh Midun duduk menghentikan lelah ke medan tempat orang memencak. Sudah makan minum, lalu dimulai pula membunyikan salung
dan puput yang disertai dengan nyanyi. Amat merdu bunyinya. Kemudian orang berandai, bermencak, menari piring, dan sebagainya. Sementara itu, orang-orang perempuan mengangin
padi jua, sambil menonton. Demikianlah halnya, hingga padi itu selesai diirik dan diangin orang. Setelah padi itu dimasukkan ke sumpit, permainan berhenti. Peralatan kecil itu pindah ke
rumah. Waktu mereka itu akan pulang ke rumah Pak Midun, pada bahunya masing-masing terletak sesumpit padi yang akan dibawa ke lumbung. Sepanjang jalan, mereka itu bersalung dan berpuput jua, sambil bersenda gurau dengan riuhnya.

Tidak jauh dari sawah orang tua Midun, ada pula, sawah istri Kacak. Luas kedua sawah itu hampir sama. Kebetulan pada sawah istri Kacak, hari itu pula orang mengirik padi. Tetapi ke
sawah istrinya tidak berapa orang datang. Yang datang itu pun kebanyakan masuk bilangan keluarganya juga. Kendatipun ada beberapa orang lain, nyata pada muka orang itu, bahwa mereka hanya memandang karena sawah istri kemenakan Tuanku Lareh saja. Mengirik ke sawah istri Kacak itu adalah pada pikirnya sebagai menjalankan rodi. Di sawahnya tidak kedengaran orang bersorak, apalagi bersuka-sukaan. Mereka itu bekerja dengan muka muram saja kelihatannya. Oleh orang bekerja kurang bersenang hati dan tidak seberapa pula, tidak dapat disudahkan mengirik pada hari itu. Terpaksa harus disambung pula pada keesokan harinya. Melihat orang ramai di sawah Midun, Kacak sangat iri hati. Bencinya kepada Midun semakin berkobar. Apalagi mendengar sorak dan senda gurau orang di sawah Midun, amat sakit hati Kacak. Hatinya sangat panas, hingga menimbulkan maksud jahat. Maka Kacak berkata dalam hatinya, "Jika dibiarkan, akhirnya Midun mau menjadi raja di kampung ini. Kian sehari kian bertambah juga temannya dan orang pun makin banyak yang suka kepadanya. Orang kampung tua muda, laki-laki perempuan kasih sayang kepadanya. Malahan dia dihormati dan dimalui orang pula. Hampir sama hormat orang kepada mamakku Tuanku Lareh dengan kepada Midun. Padahal ia adalah seorang anak peladang biasa saja. Saya seorang kemenakan Tuanku Laras lagi bangsawan di kampung ini, tidak demikian dihormati orang. Kenalan saya tidak seberapa. Orang kampung hampir tak ada yang suka kepada saya. Hal itu nyata, kalau orang bertemu di jalan dengan saya. Seakan-akan dicarinya akal supaya ia dapat menghindarkan diri. Sekarang nyatalah kepadaku bahwa Midunlah rupanya yang menyebabkan hal itu. Karena dialah maka orang kampung benci kepadaku. Lihatlah buktinya, ke sawahnya amat banyak orang datang, tetapi ke sawah istriku tidak seberapa. Mulai dari sekarang ia kupandang musuhku. Sayang saya tidak dapat mengenainya dalam perkelahian tempo hari, karena orang banyak. Jika dapat, sebelum muntah darah, tidaklah saya hentikan. Saya tanggung, kalau hanya
macam si Midun itu, sekali saja saya masuki dengan starlakku, membuih air liurnya ke luar. Pedih hatiku tidak dapat saya mengenainya jika tidak tewas ia olehku, saya berguru starlak sekali lagi. Biarlah! Tidak akan terlampau waktunya. Pada suatu masa, tentu akan dapat juga saya membalasnya sakit hati saya kepadanya. Ingatingat engkau, MidunP Tak dapat tiada engkau rasai juga bekas tanganku ini, biarpun engkau sudah mendapat pelajaran dari Haji Abbas. Kita adu nanti silatmu itu dengan starlakku. Lagi pula tidakkah engkau ketahui bahwa di sini kemenakan Tuanku Lareh, boleh bersutan di mata, berada di hati? Tidakkah engkau insaf, bahwa di sini kemenakan raja di kampung ini, boleh merajalela berbuat sekehendak hati? Aha,
rupanya dia mau tahu siapa saya."

Sejak hari itu Kacak sangat benci kepada Midun. la sudah berjanji dengan dirinya, akan mengajar Midun pada suatu waktu. Makin sehari makin bertambah bencinya. Bila bertemu
dengan Midun di jalan, meskipun ditegurnya tidak disahuti Kacak. Adakalanya ia meludah-ludah, akan menunjukkan benci dan jijiknya kepada Midun. Kacak selalu mencari-cari jalan,
supaya ia dapat berkelahi dengan Midun. Dengan kiasan itu Midun maklum atas kebencian Kacak kepadanya. Tetapi ia amat heran, apa sebabnya Kacak jadi begitu kepadanya. Padahal ia
merasa belum bersalah kepada kemenakan Tuanku Lareh itu. Dalam perkelahian waktu bermain sepak raga pun, ia tidak ada mengenai Kacak. Dan lagi hal itu bukan karenanya, melainkan tersebab oleh Kadirun. Kemudian timbul pula pikiran Midun, boleh jadi Kacak meludah-ludah itu tidak disengajanya. Oleh sebab itu tidak dihiraukan amat oleh Midun. Tidak sedikit jua masuk pada pikirannya, bahwa Kacak akan memusuhinya.



[+/-]ЯeadMore.

Sengsara Membawa Nikmat (part2)

Untuk sekedar terus mengenang karya Sutan Sati yang menggema diera 1990-an......
********************************************************************************


TIDAK lama antaranya, perkelahian Kacak dengan Midun sudah tersiar ke seluruh kampung. Di lepau-lepau nasi dan pada tiap-tiap rumah, orang memperkatakan perkelahian itu saja. Percakapan itu hanyak pula yang dilebih-lebihi orang. Yang
sejengkal sudah menjadi sehasta. Dari seorang makin bertambah-tambah jua. Ada yang mengatakan, Kacak amat payah dalam perkelahian itu, sehingga minta-minta air. Ada
pula yang berkata, Midun minta ampun, sebab takut kepada Tuanku Lareh, mamak si Kacak. Berbagai-bagailah perkataan orang, ada yang begini, ada pula yang begitu, semau-maunya saja, akan mempertahankan orang yang disukai dan dikasihinya. Anak-anak lebih-lebih lagi. Mereka itu berlari-lari pulang akan memberitahukan apa yang telah terjadi di pasar hari itu. Baru saja sampai di rumah, dengan terengah-engah karena lelah berlari, ia menceritakan perkelahian itu kepada ibu dan adiknya. Ada pula yang menjadikan pertengkaran dan perkelahian kepada mereka itu, ketika mempercakapkan hal itu dengan teman-temannya. Sebabnya, ialah karena anak-anak murid Midun mengaji mengatakan, gurunya yang menang. Tetapi yang bukan murid mengatakan Kacak yang berani.

Belum lagi terbenam matahari, mereka itu sudah datang ke surau. Dihalaman surau mereka itu duduk berkelompok-kelompok mempercakapkan keberanian gurunya. Kadang-kadang "keceknya" itu disertai pula dengan langkah kaki dan gerak tangan, eniru-niru bagaimana perkelahian itu terjadi. Tetapi orang yang berdiri sama tengah dan melihat dengan matanya sendiri perkelahian itu, memuji kesabaran hati Midun. Begitu pula ketangkasannya mengelakkan serangan Kacak, sangat mengherankan hati orang. Mereka itu semuanya menyangka, tak dapat tiada Midun ahli silat, kalau tidak masakan sepandai itu benar ia mengalahkan serangan Kacak. Tetapi di antara orang banyak yang melihat perselisihan Kacak dengan Midun di pasar itu, ada pula yang amat heran memikirkan kejadian itu. Apalagi melihat kemarahan hati Kacak dan caranya menyerang Midun, menakjubkan hati orang. Pada pikiran mereka itu, masakan sesuatu sebab yang sedikit saja, menimbulkan amarah Kacak yang hampir tak ada hingganya. Tentu saja hal itu ada ekornya, kalau tidak takkan mungkin demikian benar kegusaran hati Kacak kepada Midun. Memang sebenarnyalah pikiran orang yang demikian itu.

Sejak waktu masih kanak-kanak, sebelum mamak Kacak menjadi Tuanku Lareh, Midun dan Kacak sudah bermusuhan. Ketika mereka masih kecil-kecil, acap kali terjadi pertengkaran, karena berlainan kemauan. Hampir setiap bulan ada-ada saja yang menyebabkan hingga mereka itu keduanya terpaksa berkelahi, mengadu kekuatan masing-masing. Tetapi setelah muda remaja dan telah berpikiran, maka keduanya sama-sama
menarik diri. Apalagi sejak mamak Kacak sudah menjadi Tuanku Lareh, Midun telah menjauhkan diri daripada Kacak, dan ia sudah segan saja kepada kemenakan raja di kampung itu. Sekonyong-konyong ketika berdua belas di masjid, Kacak sudah mulai benci kepada Midun. Kebencian itu lama-kelamaan berangsur-angsur menjadikan dendam. Tidak saja karena waktu berdua belas itu Kacak menaruh sakit hati kepada Midun, tetapi ada pula beberapa sebab yang lain yang tidak menyenangkan hatinya.

Pertama, Midun dikasihi orang kampung, dia tidak, padahal ia kemenakan kandung Tuanku Lareh. Kedua, Kacak mendengar kabar angin, bahwa Midun sudah mendapat keputusan silat dari pada Haji Abbas, tetapi dia sendiri minta belajar, tidak diterima oleh Haji Abbas. Ketiga, dalam segala hal kalau ada permufakatan pemuda-pemuda, Midun selalu dijadikan ketua, tetapi dia disisihkan orang saja. Pendeknya, di dalam pergaulan di kampung itu, Kacak terpencil hidupnya, seakan-akan sengaja ia disisihkan orang.

Oleh karena itu pada pikiran Kacak, tak dapat tiada sekaliannya itu perbuatan Midun semata-mata. Sesungguhnya, jika tidak dipisahkan orang dalam perkelahian di pasar itu, memang ia hendak menewaskan Midun benar-benar. Kebencian dalam hatinya sudah mulai berkobar. Dan lagi karena mendengar kabar Midun pandai bersiIat, dan dia sudah paham pula dalam ilmu starlak, menimbulkan keinginan pula kepadanya hendak mencobakan ketangkasannya kepada Midun. Sebermula akan si Midun itu, ialah anak seorang peladang biasa saja. Sungguhpun ayah Midun orang peladang, tetapi pemandangannya sudah luas dan pengetahuannya pun dalam. Sudah banyak negeri yang ditempuhnya, dan telah jauh rantau dijalaninya semasa muda. Oleh sebab lama hidup banyak dirasai, jauh berjalan banyak dilihat, maka orang tua itu dapatlah memperbandingkan mana yang baik dan mana yang buruk. Tahu dan mengertilah Pak Midun bagaimana caranya yang baik menjalankan hidup dalam pergaulan bersama. Dengan pengetahuannya yang demikian itu, dididiknyalah anaknya Midun dengan hemat cermat, agar menjadi seorang yang berbahagia kelak. Setelah Midun akil balig, timbullah dalam pikiran Pak Midun hendak menyerahkan anaknya itu belajar silat. Ia amat ingin
supaya Midun menjadi seorang yang tangkas dan cekatan. Pak Midun merasa, bahwa silat itu berguna benar untuk membela diri dalam bahaya dan perkelahian. Lain daripada itu, amat besar faedah silat itu untuk kesehatan badan. Karena Pak Midun sendiri dahulu seorang pandai silat, insaf benarlah ia bagaimana kebaikan pergerakan badan itu untuk menjaga kesehatan tubuh.

Ketika Pak Midun dahulu hendak menyerahkan anaknya, dicarinyalah seorang guru yang telah termasyhur kepandaiannya dalam ilmu silat. Maka demikian, menurut pikiran Pak
Midun, jika tanggung-tanggung kepandaian guru itu, lebih baik tak usah lagi anaknya belajar silat. Seorang pun tak ada yang tampak oleh Pak Midun, guru yang bersesuaian dengan pikirannya di negeri itu. Lain daripada Haji Abbas, guru Midun mengaji dan saudara sebapak dengan dia, tak ada yang berkenan pada pikirannya. Tetapi sayang, sudah dua tiga kali maksudnya itu dikatakannya, selalu ditolak saja oleh Haji
Abbas. Haji Abbas memberi nasihat: supaya Midun diserahkan kepada Pendekar Sutan, adik kandungnya sendiri. Dikatakannya, bahwa sudah tua tidak kuat lagi. Dan kepandaiannya bersilat pun boleh dikatakan hampir bersamaan dengan Pendekar Sutan.
Maka diserahkanlah Midun belajar silat oleh ayahnya kepada Pendekar Sutan. Karena Pak Midun seorang yang tabu dan alif, tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan berguru, meskipun tempat anaknya berguru itu adik sebapak dia. Pendekar Sutan dipersinggah (dibawa, dijamu) oleh Pak Midun dengan murid-muridnya ke rumahnya. Sesudah makan-minum, maka diketengahkannyalah oleh Pak Midun syarat-syarat berguru ilmu silat, sebagaimana yang sudah dilazimkan orang di Minangkabau. Syarat berguru silat itu ialah: beras sesukat, kain putih sekabung, besi sekerat (pisau sebuah), uang serupiah, penjahit (jarum) tujuh, dan sirih pinang selengkapnya. Segala barang-barang itu sebenarnya kiasan saja semuanya. Arti dan wujudnya: Beras sesukat, gunanya akan dimakan guru, selama mengajari anak muda yang hendak belajar itu seolah-olah mengatakan: perlukanlah mengajarnya, janganlah dilalaikan sebab hendak mencari penghidupan lain. Kain putih sekabung, "alas tobat" namanya; maksudnya
dengan segala putih hati dan tulus anak muda itu menerima pengajaran; samalah dengan kain itu putih dan bersih hati anak muda itu menerima barang apa yang diajarkan guru. Ia akan menurut suruh dan menghentikan tegah. Dan lagi mujur tak boleh diraih, malang tak boleh ditolak, kalau sekiranya ia kena pisau atau apa saja sedang belajar, kain itulah akan kafannya kalau ia mati. Besi sekerat (pisau sebuah) itu maksudnya, seperti senjata itulah tajamnya pengajaran yang diterimanya dan lagi
janganlah ia dikenai senjata, apabila telah tamat pengajarannya. Uang serupiah, ialah untuk pembeli tembakau yang diisap guru waktu melepaskan lelah dalam mengajar anak muda itu, hampir searti juga dengan beras sesukat tadi. Penjahit tujuh, artinya sepekan tujuh hari; hendaklah guru itu terus mengajarnya, dengan pengajaran yang tajam seperti jarum itu. Dan meski tujuh macamnya mara bahaya yang tajam-tajam menimpa dia, mudah-mudahan terelakkan olehnya, berkat pengajaran guru itu. Pengajaran guru itu menjadi darah daging hendaknya kepadanya, jangan ada yang menghalangi, terus saja seperti jarum yang dijahitkan. Sirih pinang selengkapnya, artinya ialah akan dikunyah guru, waktu ia menghentikan lelah tiap-tiap sesudah mengajar anak muda itu, dan lagi sirih pinang itu telah menjadi adat yang
biasa di tanah Minangkabau. Setelah beberapa lamanya Midun belajar silat kepada
Pendekar Sutan, maka tamatlah. Sungguhpun demikian Pak Midun belum lagi bersenang hati. Pada pikirannya kepandaian Midun bersilat itu belum lagi mencukupi. Yang dikehendaki Pak Midun: belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas. Artinya silat Midun seboleh-bolehnya haruslah berkesudahan atau mendapat keputusan daripada seorang ahli silat yang sudah termasyhur. Oleh sebab itu, ingin benar ia hendak
menyuruh menambah pengajaran Midun kepada Haji Abbas. Di dalam ilmu silat, memang Haji Abbas sudah termasyhur kemana-mana di seluruh tanah Minangkabau. Sebelum ia pergi ke Mekkah, amat banyak muridnya bersilat. Di antara muridnya itu kebanyakan orang datang dari negeri lain. Tidak sedikit guru-guru silat yang datang mencoba ketangkasan Haji Abbas bersilat, semuanya kalah dan mengaku bahwa silat Haji Abbas
sukar didapat, mahal dicari di tanah Minangkabau. Karena keahliannya di dalam ilmu silat itu, kendatipun ia tidur nyenyak, jika dilempar dengan puntung api-api saja, tak dapat tiada barang itu dapat ditangkapnya. Tidak hal yang demikian itu saja yang memasyhurkan nama Haji Abbas perkara silat, tetapi ada lagi beberapa hal yang lain.
Semasa muda, ketika Haji Abbas dan Pak Midun berdagang menjajah tanah Minangkabau, tidak sedikit cobaan yang telah dirasainya. Acap kali ia disamun orang di tengah perjalanan, diperkelahikan orang beramai-ramai. Tapi karena ketangkasannya,
segala bahaya itu dapat dielakkan Haji Abbas. Lebih-lebih lagi yang makin menambah harum nama Haji Abbas, ketika ia disamun orang Baduwi antara Jeddah dan Mekkah waktu dalam perjalanan ke Tanah Suci. Lebih dari sepuluh orang, orang Baduwi yang memakai senjata tajam hendak merampoknya dengan berteman hanya tiga orang saja dapat ditewaskannya. Sungguhpun berteman boleh dikatakan Haji Abbas seoranglah yang berkelahi dengan Baduwi itu. Tak dibiarkannya sedikit jua segala Baduwi itu menyerang kawannya. Dalam ilmu akhirat pun Haji Abbas adalah seorang ulama besar. Memang sudah menjadi sifat pada Haji Abbas, jika menuntut sesuatu ilmu berpantang patah di tengah. Sebelum diketahuinya sampai ke urat-uratnya, belumlah ia bersenang
hati. Muridnya mengaji amat banyak. Baik anak-anak, baik pun orang tua, semuanya ke surau Haji Abbas belajar agama. Tidak orang kampung itu saja, bahkan banyak orang yang datang dari negeri lain belajar mengaji kepada Haji Abbas. Oleh karena Haji Abbas adalah seorang tua, yang lubuk akal gudang bicara, laut pikiran tambunan budi, maka ia pun dimalui dan ditakuti orang di kampung itu. Keadaan yang demikian itu diketahui Pak Midun belaka. Itulah tali sebabnya maka besar benar keinginannya hendak
menambah pengajaran Midun bersilat kepada Haji Abbas. Karena Haji Abbas selalu menolak permintaan Pak Midun, dengan tipu muslihat dapat juga diikhtiarkannya Midun belajar silat dengan dia. Demikianlah ikhtiar Pak Midun: Mula-mula Pak Midun bermufakat dengan Pendekar Sutan. Dikatakanlah kepada Pendekar Sutan, bahwa ia hendak menipu Haji Abbas. Sebabnya ialah karena Midun ingin hendak mendapat sesuatu dari Haji Abbas, tetapi selalu ditolaknya saja. Maka diceritakannyalah oleh Pak Midun bagaimana tipu yang hendak disuruh lakukannya kepada Midun. "Biarlah, Pendekar Sutan!" ujar Pak Midun, "bukankah silat Midun sekarang sudah boleh dibawa ke tengah. Tidak akan gampang lagi orang dapat mengenalnya. Meskipun dua-tiga orang mempersama-samakan dia, belum tentu lagi ia akan roboh. Oleh sebab itu, ketika Haji Abbas sedang tidur nyenyak di surau, kita suruh lempar oleh Midun dengan ranting kayu. Manakala Haji Abbas terkejut dan menangkap ranting kayu itu, saat itulah Midun harus menyerang Haji Abbas." "Saya pun sesuai dengan pikiran Pak Midun itu!" jawab
Pendekar Sutan. "Tetapi hal ini tidak boleh kita permudah saja. Boleh jadi Midun dapat dikenalnya, karena Haji Abbas guru besar dan sudah termasyhur silatnya. Sungguh, sebenarnya saya agak khawatir memikirkannya."

"Tak usah dikhawatirkan. Hal itu pun sudah saya pikirkan dalam-dalam. Tentu tidak akan kita biarkan Midun seorang diri saja. Kita harus serta pula menemaninya, akan mengamatamati kalau-kalau ada bahaya. Tetapi hendaklah kita bersembunyi melihat kejadian itu."
"Kalau demikian, baiklah," kata Pendekar Sutan pula sambil tersenyum. "Saya pun ingin benar hendak melihat ketangkasan Haji Abbas, sebab dari dahulu saya hendak belajar kepadanya, selalu ditolaknya pula, hingga terpaksa saya berjalan kian kemari mencari guru silat."

Pada suatu hari, sesudah sembahyang lohor, kelihatanlah Pak Midun, Pendekar Sutan dan Midun di surau Haji Abbas. Pak Midun dan Pendekar Sutan bersembunyi di surau kecil di sebelah. Waktu itu Haji Abbas sedang tidur nyenyak di mihrab, karena sudah larut malam pulang dari mendoa semalam. Midun pun bersiaplah, lalu melempar Haji Abbas dengan ranting kayu. Haji Abbas terkejut dan menangkap ranting kayu itu. Ketika itu Midun melompat dan dengan tangkas diserangnya Haji Abbas. Maka terjadilah pada ketika itu... ya, perkelahian bapak dengan anak. Tangkap-menangkap, empas-mengempaskan, tak ubahnya sebagai orang yang berkelahi benar-benar. Setelah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, sekonyong-konyong Midun terempas agak jauh. Jika orang lain yang tak pandai bersilat terempas demikian itu, tak dapat tiada pecah kepalanya. Tetapi karena Midun pandai silat pula, tak ada ubahnya sebagai kucing diempaskan saja. Ketika Haji Abbas bersiap akan menanti serangan, tampak olehnya Midun. Haji Abbas menggosok matanya, seolah-olah ia tidak percaya
kepada matanya. Ia sebagai orang bermimpi, dan amat heran karena kejadian itu. Setelah beberapa lamanya, nyatalah kepadanya bahwa sebenarnyalah Midun yang menyerang dia.

"Sudah bertukarkah pikiranmu, Midun?" ujar Haji Abbas tibatiba dengan marah. "Hendak membunuh bapakmukah engkau?"
"Tidak, Bapak!" jawab Midun dengan ketakutan. "Pikiran saya masih sehat; ayah dan Bapak Pendekar ada di surau kecil di sebelah."
"O, jadi mereka itukah yang menyuruh engkau melakukan pekerjaan ini?" kata Haji Abbas pula dengan sangat marah. "Apa maksudnya berbuat demikian ini? Bosankah ia kepadamu atau bencikah kepadaku, supaya kita salah seorang binasa? Panggil dia, suruh datang keduanya kemari! Terlalu, sungguh terlalu!"
Tidak lama antaranya Pak Midun dan Pendekar Sutan naiklah ke surau. Baru saja ia sampai, Haji Abbas berkata dengan marahnya, "Perbuatan apa ini yang Pak Midun suruhkan kepada anak saya? Apakah dendam kamu kedua yang tidak lepas, maka menyuruh lakukan perbuatan ini kepada Midun? Sungguh terlalu!"
"Janganlah terburu nafsu saja Haji marah," ujar Pak Midun dengan agak ketakutan. "Kejadian ini ialah karena kesalahan Haji sendiri."
"Kesalahan saya?" jawab Haji Abbas dengan heran. "Apa pula sebabnya saya yang Pak Midun salahkan? Bukankah perbuatan Pak Midun ini sia-sia benar?"
Ketika itu tampaklah kepada Pak Midun, marah Haji Abbas sudah agak surut. Pak Midun berkata sambil bersenda-gurau, "Selalu saya diusik anak Haji, supaya ia dapat menambah kepandaiannya dengan Haji. Beberapa kali saya disuruhnya mengatakan kepada Haji, karena ia ingin benar hendak mendapat sesuatu tentang ilmu silat daripada Haji. Tetapi tiap-tiap permintaannya itu saya sampaikan, selalu saja Haji tolak. Kesudahannya terjadilah yang demikian ini. Sekarang kami yang Haji salahkan. Haji katakan, apa dendam kami yang tak lepas.
Kalau Haji ingin hendak mencoba, berdirilah! Memang saya sudah ingin hendak bersilat dengan Haji!"

Pak Midun berdiri, lalu mengendangkan tangan dan melangkahan kaki. Sambil menari ia berkata pula dengan tertawa, katanya, "Bangunlah, Haji, mengapa duduk juga? Ah,
jadi muda lagi perasaan saya…" Melihat kelakuan Pak Midun yang jenaka itu, marah Haji
Abbas pun surutlah. Hatinya tenang bagai semula, dan tertawa karena geli hatinya. Pak Midun duduk kembali, lalu bermufakatlah ketiga bapak Midun itu. Maka dikabulkanlah oleh
Haji Abbas permintaan Midun hendak belajar dengan dia. Haji Abbas mengajar Midun amat berlainan dengan Pendekar Sutan. Midun diajar Haji Abbas tidak pada suatu tempat atau sasaran. Melainkan, tiap-tiap pulang dari mendoa atau pulang dari berjalan-jaIan, pada tempat yang sunyi, Midun sekonyong-konyong diserang oleh Haji Abbas. Maka bersilatlah mereka itu di sana beberapa lamanya. Demikianlah diperbuat Haji Abbas ada enam bulan, lamanya. Setelah itu barulah Midun diberi keputusan silat oleh Haji Abbas. Pertama, Midun dibawa Haji Abbas bersilat pada sebidang tanah yang jendul dan berbonggol. Di situ sama-sama berikhtiar mereka akan mengenai masing-masing. Maksud Haji Abbas membawa Midun bersilat pada tanah yang demikian, ialah supaya kukuh ia berdiri, jangan tangkas pada tanah yang datar saja. Kedua, atas papan, misalnya di rumah yang berlantaikan papan. Bersilat di tempat itu sekali-kali tidak boleh berbunyi langkah kaki. Sekalipun terempas, hendaklah sebagai kucing diempaskan saja, tidak keras bunyinya dan tidak boleh tertelentang. Ketiga, bersilat di dalam bencah atau pada sebidang tanah yang sudah dilicinkan. Midun tidak boleh jatuh, tetapi harus menangkis serangan guru. Keempat, pada sebidang tanah yang diberi bergaris bundaran. Midun harus bersilat dengan guru tidak boleh melewati garis, tetapi guru berusaha, supaya Midun melewati
garis itu. Kelima, bersilat di dalam gelap dan hendaklah dapat mengalahkan serangan orang yang memakai senjata tajam. Bagian yang kelima inilah yang sukar. Bagi Midun belum sempurna benar dapatnya. Sebabnya, karena pada bagian ini, haruslah tahu lebih dahulu gerak, angin, dan rasa. Hal itu tidak dipelajari, melainkan timbul sendiri, setelah beberapa lamanya pandai bersilat.

Mengingat keadaan yang demikian itulah maka Pak Midun amat terkejut dan khawatir mendengar kabar perkelahian anaknya dengan Kacak. Dalam hatinya amat marah kepada anaknya, karena yang dilawan Midun berkelahi itu kemenakan Tuanku Lareh. Tetapi setelah mendengar kabar dari Maun, yang kebetulan lalu di muka rumahnya hendak ke surau, agak senang hatinya. Sungguhpun demikian, sebelum bertemu dengan Midun belum senang benar hatinya. Pak Midun ingin hendak mendengar kabar itu daripada anaknya sendiri. Rasakan dicabutnya hari menanti waktu magrib habis, karena waktu itu anaknya pulang makan. Tegak resah, duduk pun gelisah, sebentarsebentar ia melihat ke jendela, kalau-kalau Midun datang. "Maun, suruh pulang anak-anak itu semua!" kata Haji Abbas. "Katakan kepada mereka itu, malam ini tidak mengaji. Malam besok saja suruh datang. Saya dengan Midun akan pergi mendoa malam ini. Engkau tinggal di surau dan kalau ada orang menanyakan kami, katakan kami pergi mendoa ke rumah Pakih Sutan."

Sesudah sembahyang magrib, Haji Abbas dan Midun turunlah dari surau. Sebelum pergi mendoa, lebih dahulu mereka itu singgah ke rumah Pak Midun. Setelah sudah minum dan mengisap rokok sebatang seorang, Haji Abbas pun berkata, katanya, "Betulkah tadi engkau berkelahi dengan Kacak? Belum cukup sebulan engkau tamat bersifat sudah berkelahi. Itu pun
yang engkau lawan bukan sembarang orang pula."
"Tidak, Bapak, tapi sudah umpama berkelahi juga namanya, bukan saya yang salah, melainkan dia," jawab Midun dengan ragu-ragu, sebab ia sendiri merasa tidak ada berkelahi. Akan dikatakannya berkelahi, ia tidak ada meninju Kacak, melainkan Kacak yang menyerang dia. "Ganjil benar jawabmu! Apa maksudmu mengatakan umpama berkelahi itu?" Midun melihat kedua bapaknya itu sebagai tidak bersenang hati mendengar jawabnya. Tampak dan nyata kepadanya pada muka mereka itu kekhawatiran atas kejadian hari itu. Maka Midun menerangkan dengan panjang lebar asal mula perselisihannya dengan Kacak waktu bermain sepak raga. Satu pun tak ada yang dilampauinya, diterangkannya sejelas-jelasnya. Mendengar perkataan Midun, legalah hati kedua bapaknya itu. Apalagi keterangan itu, bersesuaian dengan berita orang kepada mereka, yang melihat sendiri kejadian petang itu.

Tidak lama kemudian Haji Abbas berkata pula, katanya, "Meskipun engkau tidak bersalah, tapi percayalah engkau, bahwa kejadian petang ini tidak membaikkan kepada namamu. Biarpun tidak salahmu, tapi kata orang keduanya salah. Tak mau bertepuk sebelah tangan. Yang akan datang saya harap jangan hendaknya terjadi pula macam ini sekali lagi. Saya tidak sudi melihat orang suka berkelahi. Kebanyakan saya lihat anak-anak muda sebagai engkau ini, kalau sudah berilmu sedikit amat sombong dan congkak. Tidak berpucuk di atas enau lagi. Pikirnya, tak ada yang lebih daripada dia. Lebih-lebih kalau ia pandai bersilat. Dicari-carinya selisih supaya ia berkelahi, hendak memperlihatkan kecekatannya. Salah-salah sedikit hendak berkelahi saja. Begitulah yang kebanyakan saya lihat. Padamu kami harap jangan ada tabiat yang demikian. Hal
itu semata-mata mencelakakan diri sendiri. Tidak ada yang selamat, binasa juga akhir kelaknya. Daripada sahabat kenalan kita pun terjatuh pula. Contohnya ilmu padi, kian berisi kian runduk. Begitulah yang kami sukai dalam pergaulan bersama. Satu pun tak ada faedahnya memegahkan diri, hendak memperlihatkan pandai begini, tahu begitu. Asal tidak akan merusakkan kesopanan diri, dalam percakapan atau tingkah laku, lebih baik merendah saja. Bukanlah hal itu menghabiskan waktu saja. Pergunakanlah waktu itu bagi yang mendatangkan keselamatan dan keuntungan dirimu. Berani karena benar, takut karena salah. Akuilah kesalahan itu, jika sebenarnya bersalah. Tetapi perlihatkan keberanian, akan menunjukkan kebenaran. Anak muda biasanya lekas naik darah. Hal itu seboleh-bolehnya ditahan. Dalam segala hal hendaklah berlaku sabar. Apalagi kalau ditimpa malapetaka, haruslah diterima dengan tulus ikhlas, tetapi bilamana perlu janganlah undur barang setapak jua pun; itulah tandanya bahwa kita seorang laki-laki. Begitu pula halnya dengan hawa nafsu. Hawa nafsu itu tak ada batasnya. Dialah yang kerap kali menjerumuskan orang ke dalam lembah kesengsaraan. Jika tak pandai mengemudikan hawa nafsu, alamat badan akan binasa. Jika diturutkan hawa nafsu, mau ia sampai ke langit yang kedelapan—jika ada langit yang kedelapan. Oleh karena itu, biasakan diri memandang ke bawah, jangan selalu ke atas. Hendaklah pandai-pandai me-megang kendali hawa nafsu, supaya selamat diri hidup di dunia ini. Pikir itu pelita hati. Karena itu pekerjaan yang hendak dilakukan, pikirkan dalam-dalam, timbang dahulu buruk baiknya. Lihat-lihat kawan seiring, kata orang. Dalam pergaulan hidup hendaknya ingat-ingat. Jauhi segala percederaan. Bercampur dengan orang alim. Tak dapat tiada kita alim pula Bergaul dengan pemaling, sekurang-kurangnya jadi ajar. Sebab itu pandai-pandai mencari sahabat kenalan. Jangan dengan sembarang orang saja berteman. Kerap kali sahabat itulah yang membinasakan kita. Daripada bersahabat dengan seribu orang bodoh, lebih baik bermusuh dengan seorang pandai.

Nah, saya katakan terus terang kepadamu! Engkau adalah seorang anak muda yang cekatan. Budi pekertimu baik. Dalam segala hal engkau rajin dan pandai. Selama ini belum pernah engkau mengecewakan hati kami. Segala pekerjaanmu boleh dikatakan selalu menyenangkan hati kami. Tidak kami saja yang memuji engkau, bahkan orang kampung ini pun sangat memuji perangaimu. Oleh karena itu, peliharakanlah namamu yang baik selama ini. Pengetahuanmu untuk dunia dan akhirat sudah memadai. Tentu engkau telah dapat memahamkan mana yang baik dan mana yang buruk demikianlah nasihat saya.

Midun tepekur mendengar nasihat Haji Abbas itu. Diperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Satu pun tak ada yang dilupakannya. Masuk benar-benar nasihat itu ke dalam hati Midun. Kemudian Midun berkata, katanya, "Saya minta terima kasih banyak-banyak akan nasihat Bapak itu. Selama hayat dikandung badan takkan saya lupa-lupakan. Segala pengajaran Bapak, setitik menjadi laut, sekepal menjadi gununglah bagi saya hendaknya. Mudah-mudahan segala nasihat Bapak itu menjadi darah daging saya."

"Nasihat bapakmu itu sebenarnya," ujar Pak Midun pula, ingatlah dirimu yang akan datang. Siapa tahu karena Kacak tak dapat mengenai engkau, perkara itu menimbulkan sakit hati kepadanya. Bukankah hal itu boleh mendatangkan yang tidak baik. Insaflah engkau, pikirkan siapa kita dan siapa orang itu." Setelah itu maka Haji Abbas dan Midun pergilah mendoa.


[+/-]ЯeadMore.

Sengsara Membawa Nikmat (part1)

Untuk sekedar terus mengenang karya Sutan Sati yang menggema diera 1990-an......
********************************************************************************




WAKTU asar sudah tiba. Amat cerah hari petang itu. Langit tidak berawan, hening jernih sangat bagusnya. Matahari bersinar dengan terang, suatu pun tak ada yang mengalanginya. Lereng bukit dan puncak pohon-pohonan bagai disepuh rupanya. Tetapi lembah dan tempat yang kerendahan buram cahayanya. Demikianlah pula sebuah kampung yang terletak pada sebuah lembah, tidak jauh dari Bukittinggi. Dalam sebuah surau, di tepi sungai yang melalui kampung itu, kedengaran orang berkasidah. Suaranya amat merdu, turun naik dengan beraturan. Apa-lagi karena suara itu dirintangi bunyi air sungai yang mengalir, makin enak dan sedap pada pendengaran. Seakan-akan dari dalam sungai suara itu datangnya. Hilang-hilang timbul, antara ada dengan tiada.

"Akan menjadi orang laratkah engkau nanti, Midun?" ujar seseorang dari halaman surau sambil naik. "Bukankah berlagu itu mengibakan hati dan menjauhkan perasaan? Akhir kelaknya badan jauh jua karenanya." "Tidak, Maun," jawab orang yang dipanggilkan Midun itu,seraya meletakkan tali yang dipintalnya, "saya berkasidah hanya perintang-rintang duduk. Tidak masuk hati, melainkan untuk memetahkan lidah dalam bahasa itu saja. Dari manakah engkau?" ...................

"Dari pasar. Tidakkah engkau tahu, bahwa petang ini diadakan permainan sepak raga? Mari kita ke pasar, kabarnya sekali ini amat ramai di sana, sebab banyak orang datang dari kampung lain!"

"Sudah banyakkah orang di pasar engkau tinggalkan tadi?"
"Banyak juga jenang pun sudah datang. Waktu saya tinggalkan, orang sedang membersihkan medan."
"Si Kacak, kemenakan Tuanku Laras, sudah datangkah?"
"Belum, saya rasa tentu dia datang juga, sebab dia suka pula akan permainan sepak raga." Midun menarik napas. Maka ia pun berkata pula, katanya, "Ah, tak usah saya pergi, Maun. Biarlah saya di surau saja menyudahkan memintal tali ini akan dibuat tangguk."

"Apakah sebabnya engkau menarik napas? Bermusuhankah engkau dengan dia?" ujar Maun dengan herannya.
"Tidak, kawan. Tapi kalau saya datang ke sana, boleh jadi mendatangkan yang kurang baik."
"Sungguh, ajaib. Bermusuh tidak, tapi boleh jadi
mendatangkan yang tidak baik. Apa pula artinya itu?"
"Begini! Maun! Waktu berdua belas di masjid tempo hari, bukankah engkau duduk dekat saya?"
"Benar."
"Nah, adakah engkau melihat bagaimana pemandangan Kacak kepada saya?"
"Tidak."
"Masa kenduri itu kita duduk pada deretan yang di tengah. Kacak pada deret yang kedua. Engkau sendiri melihat ketika orang kampung meletakkan hidangan di hadapan kita. Bertimbun-timbun, hingga hampir sama tinggi dengan duduk kita. Ada yang meletakkan nasi, cukup dengan lauk-pauknya pada sebuah talam. Ada pula yang meletakkan penganan dan lain-lain sebagainya, menurut kesukaan orang yang hendak bersedekah. Tetapi kepada Kacak tidak seberapa, tak cukup sepertiga yang kepada kita itu."
"Hal itu sudah sepatutnya, Midun. Pertama, engkau seorang alim. Kedua, engkau disukai dan dikasihi orang kampung ini. Oleh Kacak hanya derajatnya jadi kemenakan Tuanku Laras saja yang dimegahkannya. Tentang tingkah laku dan perangainya tidak ada yang akan diharap. Memang dia kurang disukai orang di seluruh kampung ini."

"Sebab itulah, maka suram saja mukanya melihat hidangan di muka kita. Ketika ia melayangkan pemandangannya kepada saya, nyata benar terbayang pada muka Kacak kebenciannya. Cemburu dan jijik agaknya dia kepada saya."

"Suka hatinyalah. Bukankah hal itu kemauan orang kampung. Apa pula yang menyakitkan hatinya kepadamu?"
"Benar katamu, suka hatinyalah. Tapi harus engkau ingat pula sebaliknya. Kita ini hanya orang kebanyakan saja, tapi dia orang bangsawan tinggi dan kemenakan raja kita di kampung ini. Tidakkah hal itu boleh mendatangkan bahaya?"

"Mendatangkan bahaya? Bahaya apa pulakah yang akan tiba karena itu? Segalanya akan menjadi pikiran kepadamu. Apa gunanya dihiraukan, sudahlah. Marilah kita pergi bersamasama!"
"Patut juga kita pikirkan, mana yang rasanya boleh mendatangkan yang kurang baik kepada diri. Tetapi kalau engkau keras juga hendak membawa saya, baiklah."
"Ah, belum tumbuh sudah engkau siangi. Terlampau arif diri binasa, kurang arif badan celaka. Engkau rupanya terlalu arif benar dalam hal ini. Lekaslah, tidak lama lagi permainan akan dimulai orang."

Maka kelihatanlah dua orang sahabat berjalan menuju arah ke pasar di kampung itu. Midun ialah seorang muda yang baru berumur lebih kurang 20 tahun. Ia telah menjadi guru tua di surau. Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati. Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat. Tiada lama berjalan mereka keduapun sampailah ke pasar. Didapatinya orang sudah banyak dan permainan sepak raga tidak lama lagi akan dimulai. Adapun pasar di kampung itu terletak di tepi jalan besar. Pada seberang jalan di muka pasar, berderet beberapa buah rumah dan lepau nasi. Di belakang rumah-rumah itu mengalir
sebuah sungai, Pasar itu diramaikan hanya sekali sepekan, yaitu tiap-tiap hari Jumat. Itu pun ramainya hanya hingga tengah hari saja. Oleh sebab itu, segala dangau-dangau diangkat orang. Tetapi dangau-dangau yang sebelah ke tepi pasar dibiarkan
tertegak. Gunanya ialah untuk orang musafir atau siapa saja yang suka bermalam di situ, atau untuk berlindung daripada panas akan melepaskan lelah dalam perjalanan dan lainlain sebagainya. Lain. daripada hari Jumat, pasar itu dipergunakan orang juga untuk bermain sepak raga, rapat negeri, dan lain-lain. Ketika Midun kelihatan oleh beberapa orang muda di pasar itu, mereka itu pun datanglah mendapatkannya. Mereka itu semuanya amat bergirang hati melihat Midun. Begitu pula ketika ia bersalam dengan orang-orang tua yang duduk berkelompok - kelompok di situ, nyata terbayang pada muka orangorang itu kesenangan hatinya. Apakah sebabnya demikian?
Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik dan tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih, jarang orang yang sebaik dia hatinya. Sabar dan tak lekas marah, serta tulus ikhlas dalam segala hal. Hati tetap dan kemauannya keras; apa yang dimaksudnya
jika tidak sampai, belum ia bersenang hati. Adalah pula padanya suatu sifat yang baik, yakni barang siapa yang berdekatan atau bercampur dengan dia, tak dapat tiada senang hatinya, hilang sedih hati olehnya. Karena itu, tua muda, kecil besar di kampung itu kasih dan sayang kepada Midun. Hampir semua orang di kampungnya kenal akan dia. Sebab itu namanya tergantung di bibir orang banyak, dan budi pekertinya diambil orang jadi teladan.


Orang sudah banyak di pasar, di sana-sini kelihatan orang duduk berkelompok - kelompok. Orang yang akan menonton permainan sepak raga pun sudah banyak pula datang. Anak-anak sudah berlarian ke sana kemari, mencari tempat yang baik
untuk menonton. Ada pula di antara mereka itu yang bermain-main, misalnya berkucing-kucing, berkuda-kuda dan lain-lain,menanti permainan dimulai. Segala orang di pasar itu rupanya gelisah, tidak senang diam. Sebentar-sebentar melihat ke jalan besar, sebagai ada yang dinantikannya. Tidak berapa lama antaranya, kelihatan seorang muda
datang menuju ke pasar itu. Ia bercelana batik, berbaju Cina yang berkerawang pada saku dan punggungnya. Kopiahnya sutera selalu, berterompah dan bersarung kain Bugis. Sungguh, jels benar kesombongannya meski kelihatannya dari jauh. la berjalan dengan gagah dan congkaknya, apalagi diiringkan oleh beberapa orang pengiringnya.

"Itu dia Engku Muda Kacak sudah datang," kata Maun kepada kawan-kawannya.
Mendengar perkataan Maun, orang yang duduk berkelompok-kelompok itu berdiri. Setelah Kacak sampai ke pasar, semuanya datang bersalam kepadanya. Sungguhpun Kacak masih berumur 21 tahun lebih, tetapi segala orang di pasar itu, baik tua ataupun muda, sangat hormat kepadanya dan dengan sopan bersalam dengan dia. Tetapi mereka ber-salam tidak sebagai kepada Midun, melainkan kebalikannya. Mereka itu semuanya seolah-olah terpaksa, sebab ada yang ditakutkannya. Sudah padan benar nama itu dilekatkan kepadanya, karena bersesuaian dengan tingkah lakunya. la tinggi hati, sombong, dan congkak. Matanya juling, kemerah-merahan warnanya. Alisnya terjorok ke muka, hidungnya panjang dan bungkuk. Hal itu sudah menyatakan, bahwa ia seorang yang busuk hati. Di kampung itu ia sangat dibenci orang, karena sangat angkuhnya. Perkataannya kasar, selalu menyakitkan hati. Adat sopan santun sedikit pun tak ada pada Kacak. Ke mana-mana berjalan selalu ia pakai pengiring. Bahkan di dalam pemerintahan ia pun campur pula, agaknya lebih dari mamaknya. Sungguhpun demikian, seorang pun tak ada yang berani menegurnya, karena orang takut kepada Tuanku Lareh. Kacak pun seolah-olah tahu pula siapa dia: karena itu ia selalu menggagahkan diri di
kampung itu.

"Sudah sepetang ini hari, belum jugakah jenang datang kemedan?" ujar Kacak dengan agak keras, sambil melayangkan pemandangannya, seakan-akan mencari seseorang dalam orang banyak yang datang bersalaman kepadanya itu. "Sudah, Engku Muda;" ujar Maun dengan sopan. "Itu beliau di dalam lepau nasi sedang bercakap-cakap. Agaknya beliau
menantikan kedatangan Engku Muda saja lagi."
"Katakanlah saya sudah datang!" ujar Kacak pula dengan pongahnya. "Sudah hampir terbenam matahari gila membual juga."
Tidak lama antaranya, keluarlah seorang yang agak tua dan bertubuh tegap dari dalam sebuah lepau nasi. Orang itu ialah jenang permainan sepak raga. Baru saja dilihatnya Kacak, segera ia datang mendapatkannya. Sambil bersalam jenang berkata, katanya, "Sudah lama Engku Muda datang?".
"Lama juga," jawab Kacak dengan muka masam. "Apakah sebabnya tidak dimulai juga bermain sepak raga? Akan dinantikan terbenamnya matahari dulu, maka dimulai?"
"Ah, kami sudah dari tadi datang," ujar jenang dengan hormat, "hanya menantikan Engku Muda saja lagi."
"Mengapa tidak dimulai saja dulu? Sungguh, jika tak ada saya rupanya takkan jadi permainan ini."
Segala penonton sudah duduk pada tempatnya masingmasing, yang telah disediakan oleh pengurus medan itu sebelum bermain. Maka jenang pun pergilah bersalam kepada
beberapa orang penonton yang terpandang, yang maksudnya tidak saja memberi selamat datang, tetapi seolah-olah meminta izin juga, bahwa permainan akan dimulai.

"Rupanya banyak juga orang datang dari jorong lain hendak bermain hari ini," ujar seorang penghulu ketika bersalam dengan jenang.
"Benar, Datuk," ujar jenang. "Sungguh, luar biasa ramainya sekali ini."
Setelah jenang masuk ke tengah medan, maka segala pemain pun datanglah bersalam dengan hormatnya, akan mengenalkan diri masing-masing. Kemudian segala pemain berdiri berkeliling, membuat sebuah bundaran di medan itu. Jenang yang berdiri di tengah medan, lalu melihat berkeliling, memperhatikan pemain yang berdiri di medan itu.
"Engku Muda Kacak!" kata jenang sekonyong-konyong, "Permainan akan kita mulai."
Perkataan jenang yang demikian itu sudah cukup untuk menjadi sindiran kepada pemain, agar segera memperbaiki kesalahannya. Kacak kemalu-maluan, tetapi apa hendak dikatakan, karena di medan itu jenang lebih berkuasa daripada dia. Dengan muka merah dan menggigit bibir karena malu dapat teguran jenang, Kacak melihat ke kiri-ke kanan, ke muka dan ke belakang, lalu memperbaiki tegaknya. Segala pemain yang
lain insaf pula akan arti sindiran itu, lalu mereka memperhatikan betul tidaknya tempat ia berdiri. Syukurlah hanya Kacak seorang yang tidak sempurna tegaknya di medan itu. Sesudahnya jenang memperbahasakan tamu, yaitu memberikan raga supaya disepakkan lebih dulu, permainan pun dimulailah. Jenang menyepak raga, lalu berkata, "Bagian Engku Muda Kacak!"
Maka Kacak pun bersiap menanti raga. Dengan tangkas, raga itu disepaknya tinggi ke atas, lalu berkata, "Bagianmu, Midun!"
Midun bersiap serta memandang ke arah suara itu datang. Nyata kepadanya, bahwa yang berseru itu Kacak. Dengan tidak menanti anak raga, lalu Midun mempertubi-tubikan sepaknya sampai sepuluh kali. Sudah itu disepakkannya pula ke arah Kacak, lalu berkata, "Sambutlah kembali, Engku Muda!" Kacak melihat hal Midun dengan kepandaiannya itu tidak bersenang hati. Ia berkata dalam hatinya, "Berapa kepandaianmu, saya lebih lagi dari engkau." Ketika raga tinggi melambung, ia memandang ke atas serta menganjur langkah ke belakang. Maksudnya akan mencari
alamat, dan hendak melompat sambil menyepak raga, tetapi celaka! Ketika ia akan menyepak; kakinya yang sebelah kiri tergelincir, lalu Kacak... bab, jatuh terenyak. Segala yang main, baik pun si penonton semuanya tersenyum sambil membuang muka. Mereka itu seakan-akan menahan tertawanya. Oleh karena itu, tak ada ubahnya sebagai orang sakit gigi tertawa. Sebabnya, ialah karena orang segan dan takut kepada kemenakan Tuanku Lareh itu. Waktu Kacak terduduk, dan warna mukanya itu pucat menahan sakit, seorang daripada mereka yang main itu bernama Kadirun berkata, katanya,
"Cempedak hutan!"
Adapun Kadirun itu ialah teman Midun semasa kecil. Ia amat pandai membuat orang tertawa. Tak ada ubahnya sebagai alanalan (badut) pada komidi. Jangankan mendengar perkataannya, melihat rupanya saja pun orang sudah hendak tertawa. Kadirun
adalah seorang muda yang sabar. Biarpun bagaimana juga diolok-olokkan orang, ia tertawa saja. Meskipun orang marah kepadanya, tetapi manakala berhadapan dengan dia, tak dapat tiada tertawa. Memang sudah menjadi sifat padanya tabiat itu sejak kecil. Hampir semua orang di kampung itu sudah mengetahui perangai Kadirun yang demikian.
Kawan-kawan Kadirun waktu masih kanak-kanak dahulu, lebih kurang ada sepuluh orang yang hadir di sana. Mereka itu mengerti apa maksud Kadirun berkata begitu. Semuanya
terkenang akan kejadian semasa mereka masih kecil itu, ketika menggembalakan kerbau di hutan. Karena itu tidak tertahan lagi perut mereka itu hendak tertawa. Kesudahannya lepas jua, mereka tertawa gelak-gelak mengenangkan perbuatan masa
dahulu.

Kacak bertambah pucat mukanya karena malu. Apalagi dalam permainan itu, ia dikalahkan Midun. Tubuhnya berasa sakit terjatuh. Pada pikiran Kacak orang tertawa itu mengejekkannya. Sekonyong-konyong merah padam mukanya. Darahnya mendidih, sebab marah. Maka diturutnya Kadirun akan menanyakan, apa maksud perkataan "cempedak hutan"
itu. Kadirun anak muda yang sabar itu menjawab katanya,
"Tanyakan kepada Midun apa maksudnya, Engku Muda!" Mendengar perkataan itu, Kacak makin meradang. Hatinya bertambah panas, lebih-lebih mendengar nama orang yang
dikatakan Kadirun itu, orang yang tidak disukainya. Sejak kenduri di masjid, hatinya sudah mulai benci kepada Midun. Dengan tidak berkata-kata lagi, lalu diturutnya Midun. Ketika ia sampai di hadapan Midun, kebetulan Midun sedang tersenyum. Pada pikiran Kacak menertawakannya. Ia tidak bertanya lagi, terus ditinjunya. Midun mengelak, ia tak kena. Kacak menyerang berturut-turut, tetapi Midun selalu mengelak
diri, sambil undur ke belakang. Kesudahannya Midun tersesak ke balai-balai dangau, lalu bertalian. Kacak menyerbukan diri dengan deras. Midun melompat dan mengelak ke kiri. Karena deras datang, tangannya tertumbuk ke tonggak dangau. Tonggak dangau itu rebah, Kacak terdorong ke dalam, diimpit oleh atap dangau itu. Orang tertawa karena geli melihat kepala Kacak tersembul pada atap rumbia. Jenang lalu melompat akan
melerai perkelahian itu. Makin disabarkan, makin keras Kacak hendak menyerang. Midun sabar saja, sedikit pun tak ada terbayang hati marah pada mukanya. Setelah Kacak disabarkan, Midun disuruh orang menerangkan apa arti kata "cempedak hutan" yang dikatakan Kadirun itu. Midun mencari Kadirun dengan matanya di dalam orang banyak,
akan menyuruh menerangkan arti perkataan itu. Tetapi ketika perkelahian terjadi, Kadirun sudah melarikan diri karena ketakutan. Midun berkata, katanya, "Kawan-kawan saya tertawa itu sekali-kali tidak menertawakan Engku Muda Kacak. Tentu saja
mereka itu tidak berani menertawakannya. Mereka tertawa karena mengenangkan perangainya semasa kanak-kanak. Dahulu waktu kami kecil-kecil, pergi menggembalakan kerbau ke hutan. Sampai dalam hutan, kami duduk saja di atas punggung kerbau masing-masing. Sambil memberi makan kerbau kami bernyanyi dan bersenda gurau sesuka-suka hati. Karena pekerjaan itu tidak berfaedah, melainkan menghabiskan hari saja, saya ajak kawan-kawan mufakat di bawah sepohon kayu yang rindang. Saya katakan kepadanya, daripada bernyanyi, lebih baik kita mencari hasil di hutan itu. Kawan-kawan
tidak mau, karena mereka takut kerbaunya diserang binatang buas. Maka saya terangkanlah kepada mereka itu bagaimana cerita ayah saya tentang keinginan kerbau menjaga diri dalam hutan. Saya katakan juga, manakala kerbau diserang harimau
misalnya, tidaklah akan terjaga, sebab kita semuanya masih kanak-kanak. Mendengar saya mengatakan 'harimau', apalagi di dalam hutan, kawan-kawan saya ketakutan. Mereka melarang saya menyebut nama itu sekali lagi. Jika saya hendak menyebut juga, disuruhnya panggilkan saja 'inyiak!' Perkataan kawan-kawan saya itu saya bantah pula. Sedangkan nama Allah disebut orang, istimewa nama binatang. Apalagi binatang itu tidak akan mengerti perkataan orang. Dalam pada saya bercerita itu, tiba-tiba kedengaran bunyi sebagai barang jatuh dua kali. Bunyi itu kedengaran tidak jauh
daripada kami. Kawan-kawan saya terkejut dan kecut hatinya. Pada persangkaan mereka, tak dapat tiada harimau yang melompat. Mereka itu duduk berdesak-desak, masing-masing
hendak ke tengah akan melindungi diri. Berimpit-impit tidak
bertentu lagu. Kelihatan tak ada ubahnya sebagai onggokan kecil. Seorang pun tak ada yang berani mengeluarkan perkataan, karena lidahnya sudah kaku dan mulut terkatup. Saya pun sudah tersepit di tengah-tengah, hampir tidak dapat bernapas lagi. Dengan segera saya terangkan, bahwa hal itu tak usah ditakutkan sebelum diperiksa dahulu. Lalu sayapun pergilah ke arah bunyi itu datang, akan melihat apa yang menyebabkan
bunyi itu. Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya 'cempedak hutan' yang baru jatuh. Ketika itu timbullah pikiran saya hendak memperolok-olokkan kawan-kawan. Saya ambil kedua cempedak itu, lalu saya berjalan perlahan-lahan ke tempat kawan-kawan saya. Setelah dekat, saya lemparkan kedua cempedak itu, sambil berseru, 'Inyiak, makan cempedak hutan!' Mereka itu berjeritan dan bersiap hendak lari. Tetapi kaki
mereka itu tak dapat lagi diangkatnya, sebab sudah kaku karena ketakutan. Sekonyong-konyong Maun berseru, katanya,
'Jangan lari, kawan, cempedak hutan kiranya.' Sudah itu berbagai-bagailah senda gurau untuk menghilangkan ketakutan kami. Lebih-lebih Kadirun yang membuat ulah
ini, selalu kami perolok-olokan dengan cempedak hutan itu. Sakit-sakit perut kami tertawa melihat tingkah lakunya yang amat menggelikan hati itu. Demikianlah kisah kami dengan cempedak hutan masa kami kecil-kecil itu. Jadi nyatalah kepada Engku Muda Kacak ataupun sanak-saudara yang lain, bahwa kami tidak menertawakan Engku Muda, melainkan tertawa mengenangkan perangai dahulu jua."

Segala orang yang mendengarkan cerita itu jangankan diam, semakin jadi tertawanya. Amat geli hati orang mendengar cerita Midun itu. Kacak mendengar orang makin bernyala-nyala. Rasakan hendak ditelannya Midun ketika itu. Pada pikirannya, jangankan Midun mendiamkan tertawa orang, tetapi seakanakan mencari-cari perkataan akan menggelikan hati, supaya orang makin jadi tertawa. Tetapi apa hendak dikatakan, ia terpaksa berjalan dari tempat itu karena malu. Akan berkelahi sekali lagi, tentu tidak dibiarkan orang. Dengan pemandangan yang amat tajam kepada Midun, Kacak pun pulanglah ke rumahnya. Permainan sepak raga dihentikan, karena hari sudah jauh
petang. Maka orang di pasar itu pun pulanglah ke rumahnya masing-masing. Midun pulang pula ke surau. Sepanjang jalan tampaktampak olehnya pemandangan Kacak yang amat dalam pengertiannya itu. Hatinya berdebar-debar, khawatir kalau-kalau hal itu menjadikan tidak baik kepadanya. Tetapi kemudian timbul pula pikirannya, dan berkata dalam hati, "Ah, tidak berutang tak membayar, tidak berpiutang tak menerima, masakan saya akan dimusuhinya. Karena perangai Kadirun saya akan dimusuhinya, tidak boleh jadi. Lagi pula masakan perkara yang sekecil itu akan menjadikan dendam kepada Kacak."
-to be continue-



[+/-]ЯeadMore.

Apakah itu?

Letaknya dihati,,,,meskipun tersembunyi namun getarannya nampak sekali.
Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus tindakan.
Sungguh,,,
Ia` dpt mengubah Pahit menjadi Manis
....Debu beralih Emas
....Keruh menjadi Bening
....Sakit menjadi Sembuh
....Penjara menjadi Telaga
....Derita menjadi Nikmat
....dan Kemarahan menjadi Rahmatttt.

Inilah "Indahnya ....."



[+/-]ЯeadMore.

Surat Itu

Maaf, jika aku menghilang seperti bulan ditingkap gerhana. Sebab, aku telah kehilangan segalanya. Rasa cinta yang takkan pernah kudapat kembali sebelum semua ini kuakhiri. Harapku, kau adalah para penduduk desa yang siap dengan kentongan ketika tubuhku sudah benar-benar lenyap, menghablur, dan mungkin takkan kembali seperti yang diharapkan oleh penduduk-penduduk yang rindu akan sinar purnama. Kau sudah harus bersiap-siap……
********************************************
Lelaki itu mungkin mirip sebuah magnet. Dan perempuan di sebelahnya serupa lantakan-lantakan besi. Kata-kata yang keluar adalah hujan yang mengecat pagi dengan simfoni warna pelangi. Meski kita tidak terlalu paham apa yang menjadikannya begitu mengiris-iris perasaan. Bukankah pagi tidak selamanya akan tetap berdiam? Seperti kemarin, pagi yang dipenuhi cericit burung-burung itu tetap saja pergi. Mungkin ini adalah sebuah perpisahan. Ya, mungkin saja...

Perempuan itu lama membenamkan muka dalam sapu tangan. Air matanya berhamburan. Selalu begitu yang terlihat kalau perempuan sedang sedih. Apa mungkin gerimis air mata akan menyaput rasa pedih di dada? Barangkali itu mustahil karena kadang rasa tak bisa diredam oleh perbuatan kasat mata. Bahkan sering kali perbuatan itu hanya menambah semakin kiamat hidup seseorang. Lelaki di sampingnya lebih punya pendirian. Tentu menurut ukuran kasat mata. Demikian yang sering disaksikan orang, bahkan mungkin sudah menjadi sensus bersama bahwa lelaki lebih tangguh menerima kenyataan pahit kehidupan. Bukan karena ia dilatih atau apapun. Menurut orang tua dulu itu sudah kodratnya. Sudah bentukan Tuhan. Seperti siang dan malam, panas dan dingin. Tapi bagaimana kalau misalnya lelaki juga menangisi kepergian?

“Tunggulah aku kembali”
“Sampai kapan?”
“Yang jelas sampai tugasku selesai”
“Empat tahun?”
“Mungkin lebih”

Perempuan itu menatap tanah seperti menerima bisikan-bisikan dari kedalaman humus. Bagaimanapun kepergian sering menimbulkan kepedihan. Tentu karena ada kebersamaan yang sulit dilepaskan. Tapi karena keterbatasan naluri dan nurani sering membuat manusia lupa bahwa ia hidup dalam kerangkeng yang bernama ruang dan waktu. Oleh karenanya kemudian lahir kata-kata umpatan, tangisan, cemooh dan gelak-tawa.
Termasuk yang menimpa perempuan itu, ia sadar, itulah siklus ruang dan waktu. Kekasihnya tidak mungkin ia larang untuk pergi, demi tugas menjadi relawan pada sebuah kelompok etnis yang sedang bertikai. Meski ia khawatir dan takut lelaki itu akan berbagi dengan perempuan selain dirinya atau terjadi apa-apa yang mengancam keselamatan jiwanya.

“Apakah kau punya harapan untuk kembali?”
“Apa maksudmu?” Lelaki itu ingin kepastian.
“Aku sekarang sudah muak dengan segala tetek-bengek tentang cinta. Sebab pergantian jam, hari, bulan, dan tahun adalah pergantian cinta itu sendiri. Nyaris cinta seperti balon-balon sabun.”
“Yakinlah bahwa cintaku tak seperti yang kau katakan. Bukan balon-balon sabun.”
“Aku tidak sedang membenarkan kata-kataku. Aku hanya mau ngomong kenyataan.”
“Ya, aku paham. Kita merasakan gejolak yang sama. Tapi ini tututan tugas. Aku yakin kau juga mengerti keadaanku. Kuharap kau menungguku hingga saatnya tiba”
“Sampai Mas membawa perempuan lain ke sini?”
“Jangan bicara begitu. Aku tak ingin membuatmu terluka. Termasuk dalam perjalanan ini.”
“Jika Mas betul-betul bersama orang lain nantinya, aku berusaha untuk tetap tegar dan menerima kenyataan ini. Aku sudah siap jika ini adalah pertemuan yang terakhir. Aku tidak akan menangis lagi dan mengagung-agungkan cinta yang keparat itu. Aku tidak cengeng. Aku bukan perempuan yang mudah tergoda oleh rasa sakit yang mungkin juga sulit terceraikan.”
Perempuan itu merampungkan tangis dipelukan kekasihnya yang sebentar lagi akan lenyap ditelan gerbong kereta. Ia berfikir bagaimana cara terbaik mengurut dada agar tak terlalau sakit mendapati kejadian ini.”

Mengapa orang sering menangisi perpisahan? Apakah setiap perpisahan akan bermakna jika ditangisi? Entahlah! Yang jelas manusia amat rapuh dalam hal ini. Tak terkecuali perempuan itu. Ia menangis walau tak tahu makna tangisnya. Karena sebenarnya ia takkan pernah mengerti apa yang akan terjadi esok atau lusa. Bisa jadi sang lelaki malah akan berpaling dan membenamkan kepala perempuan lain di dadanya. Siapa tahu?

Warna senja membangun siluet ke arah belakang benda-benda yang menangkap sisa sinar matahari. Tubuh keduanya kemilau warna emas, mirip lakon cinta dalam opera sabun. Sesaat lagi perpisahan akan membangun jarak antara mereka. Sebuah kereta meluncur dari balik senja. Melewati rekahan gunung yang membelah keduanya. Kereta itu akan mengirim sang lelaki ke dalam tawanan rindu di perantauan yang jauh di sana. Peron mulai riuh rendah dengan suara-suara para pemegang tiket atau kaum kerabat yang ikut hanya sampai di mulut gerbong. Mungkin bukan hanya perempuan itu yang meratapi kepergian ini. Di pojok peron sebelah barat juga ada sesosok perempuan yang mengusap-usap sepasang matanya dengan lengan bajunya. Aih…kenapa harus selalu perempuan yang menunggu?.

Ya, stasiun selalu mencatat keresahan para penunggu, orang-orang yang sebentar lagi paham makna perubahan. Dan sadar bahwa terkadang ia juga menyakitkan.
Perempuan itu melepas genggaman tangan di jemari kekasihnya. Lelaki itu melangkah terseret seperti ditarik keraguan ke dalam tanah. Ketika ia menyentuh lantai kereta, tubuhnya terhenti. Seakan ada yang ditinggalkannya., meski sepenuhnya ia tak mengerti apakah itu. Lelaki itu melambaikan tangan. Dibalas oleh perempuan di peron itu sambil berusaha memendam tangisnya, namun tetap saja buliran-buliran kecil itu melompat dari sarangnya. Walaupun begitu, ia harus tersenyum agar tak menambah beban dalam perjalanan ini. Meski senyum yang keluar adalah senyum paling hambar yang ia miliki. Harus tegar menerima semua ini, teguhnya dalam hati.

Kereta itu mulai menggergaji rel. suaranya yang berderak-derak mengirim impian para penumpang atau pengantar pada kematian. Sungguh sangat dekatnya batas antara kehidupan dan kematian dalam gerbong yang sudah jompo ini. Kereta tak ada bedanya dengan keranda. Di mana-mana berita mengenai kereta terguling, menyeruduk tebing atau tergelincir sering menjadi menu utama Head Line media kita. Ia sudah menjadi hal yang basi dan tidak menarik lagi, karena paling sering terjadi.
Perempuan itu kembali membalas lambaian terakhir kekasihnya yang sudah duduk di kursi kereta. Tak peduli orang disampingnya menatap aneh. Ia pikir, mereka juga ada yang sama dengan dirinya. Walaupun terlihat dari luar mereka begitu tegar dan tak terkesan rapuh.
***************
Waktu yang panjang selalu memberi peluang bagi pengalaman dan perasaan untuk berubah. Terkadang manusia mengukur derajat kesetiaan selalu dikaitkan dengan waktu yang selalu membuntuti mereka. Apakah setiap musim berganti manusia juga harus melipat hal-hal yang telah berlalu, karena ia telah dianggap lapuk?
Kini, saatnya perempuan itu membangun keraguan kembali terhadap kata-kata terakhir lelaki kekasihnya. Selama ini ia tidak lagi menerima sepucuk surat, seprti biasanya. Walau hanya sebuah kabar tentang keberadaannya atau kondisi pekerjaannya yang tentu banyak memakan tenaga. Tapi, kecewa pertama bukan alasan untuk mandeg dalam berusaha. Perempuan itu tetap harus mecari tahu keberadaan lelaki kekasihnya.

“Maaf ayah, aku harus menunggu.”
“Menunggu? Menunggu apa? Lelaki itu sudah pasti kawin dan mungkin juga sudah punya anak. Buang jauh-jauh harapan yang tak jelas itu.”
“Tapi ini keputusan sepihak ayah”
“Justeru lelaki itu yang bertindak sepihak. Mengapa ia berpaling sebelum berbicara denganmu. Dasar pengecut! Ingat! Arya lebih sempurna dari lelaki bangsat itu.”
“Tidak, aku tetap akan menunggu. Aku tidak ingin kawin dengan Arya.”
“Sampai kau menjadi gadis lapuk? Kau harus mau anakku. Aku sudah menerima lamaran orang tuanya. Kau tak bisa menolak.”
*******
Sinar tua lampu di beranda. Perempuan itu menghimpun kekuatannya untuk menerima irisan belati yang sangat tajam itu. Sebuah surat yang sudah sangat ia kenal pengirimnya: lelaki kekasihnya!.

“Kenapa kau murung sekali?”
Arya dari dalam kamar menghampirinya. Setelah sang isteri membenamkan surat itu dalam bantalan sofa. Sejenak rasa terkejut dari raut muka perempuan itu menyambar. Arya mungkin bisa menangkapnya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin santai dan menikmati malam berbulan ini.”
“bicaralah terus terang. Kita kan sudah menjadi suami-isteri. Tak baik ada sesuatu yang berusaha untuk ditutup-tutupi.”
Mata teduh perempuan itu menghunjam ke lantai. Ia tak bisa memungkiri gejolak yang membacok perasaannya. Tapi juga tak mungkin berkata-kata secara jujur. Biarlah gemeretak itu hanya mengendap diam-diam dalam dada.
Ia teringat penggalan kata-kata terakhir surat kekasihnya….
………………
Aku tidak menyangka jika aku adalah seorang korban. Lewat percintaan yang sangat berat aku lakoni. Memang, aku sadar, kau bukan Tuhan. Mungkin tidak tahu bagaimana perasaan orang yang bertahun-tahun mengharap dan menunggu, dengan mudahnya diceraikan (mungkin dicampakkan!).
Selamat! Semoga kau tidak menjadi pendusta lagi buat suamimu yang saat ini….
*****
Tidak! Perempuan itu memekik, walau nampak seperti gumaman. Ia teringat kereta besok berangkat jam 6:30. Ia harus bergegas. Sebelum Subuh sudah harus pergi….

kedaikata, Desember 2007
http://belengbettung.blogspot.com/2009/11/surat-itu.html


[+/-]ЯeadMore.

Emegrge Collection (Kid Edition)

Emerge Kids
CP : 0813 840 827 19 Esia (021) 99759156
nasponriadek@live.com, nasponriadek@rocketmail.com


Keterangan:
emerge t-shirt
Price : Rp.330.000/dz (lusin)


Keterangan:
Emege t-shirt (Polos-1)
Rp.360.000/dz (lusin)


Keterangan:
Emege t-shirt (kotak-1)
Rp.390.000/dz (lusin)


Keterangan:
Emege t-shirt (Polos-2)
Rp.330.000/dz (lusin)


Keterangan:
Emege t-shirt (kotak-2)
Rp.390.000/dz (lusin)


Emege t-shirt Varian

* Untuk wilayah Jakarta pengiriman gratis
** Luar kota pengiriman via TIKI (harga tidak termasuk ongkos kirim)

[+/-]ЯeadMore.