
Masa jedah sudah berakhir dan benar-benar berakhir. Tak kembali pada keakraban semula, saat setiap detik berkencan dengan masa. Tak kembali pada keindahan semula, saat setiap bercengkrama membingkai makna. Benar - benar menjadi akhir dari selembar batas yang semula tak terlihat.
Inilah akhir dari dendangan kerinduan yang kini tak terdengar lagi. Akhir dari pelangi cinta yang tak jua tampak ujungnya. Akhir dari wewangian surga yang kini tak tercium aromanya. Akhir dari gejolak asa yang tak lagi teraba detak jantungnya. Dan bahkan akhir dari keagungan rasa yang semakin hari semakin ternisbikan.
Selesai sudah, tuntas sebuah kisahdengan tanpa ada yang sempat terluka. Segera kuakhiri sendiri sebelum ada yang tersakiti. Kini kembali kuhimpun serumpun kehidupan yang pernah terserak. Ku rengkuh lagi seuntai kedamaian yang sempat terabaikan.
Kan kuhindari membuka jendela jiwa untuk menyambut mentari pagi yang biasa kau suguhkan.
Kan kuharamkan memanggil hati yag dulu selalu lepas tak terkendali. Kan kubisikan dengan mesra pada malamku "bukankah ini yang terbaik untukku?"
Inilah akhir dari dendangan kerinduan yang kini tak terdengar lagi. Akhir dari pelangi cinta yang tak jua tampak ujungnya. Akhir dari wewangian surga yang kini tak tercium aromanya. Akhir dari gejolak asa yang tak lagi teraba detak jantungnya. Dan bahkan akhir dari keagungan rasa yang semakin hari semakin ternisbikan.
Selesai sudah, tuntas sebuah kisah
Kan kuhindari membuka jendela jiwa untuk menyambut mentari pagi yang biasa kau suguhkan.
Kan kuharamkan memanggil hati yag dulu selalu lepas tak terkendali. Kan kubisikan dengan mesra pada malamku "bukankah ini yang terbaik untukku?"
kompasiana.com


0 comments:
Post a Comment